Gubuku – Pernah gak sih lo ngeliat postingan Instagram atau iklan di jalan, terus dalam hitungan detik lo langsung tahu itu punya brand mana bahkan sebelum lo baca logonya?
Misalnya, ngeliat kombinasi warna merah-putih dengan font yang melengkung ikonik, pikiran lo langsung melayang ke Coca-Cola. Atau ngeliat desain super bersih, minimalis, dengan ruang kosong yang luas, lo pasti langsung ngebatin, “Wah, vibe-nya Apple banget nih.”
Nah, itu bukan kebetulan, bestie! Itu adalah kekuatan dari Brand Voice yang dibangun lewat Tipografi dan Elemen Visual.
Banyak desainer atau pemilik bisnis pemula mikir kalau brand voice itu cuma soal gaya bahasa di teks (caption atau copywriting). Padahal, visual itu justru cara paling cepat buat brand lo “bicara” ke audiens.
Biar brand lo atau klien lo punya kepribadian yang kuat dan auto-diingat sama orang, yuk bongkar rahasia menyusun brand voice lewat elemen visual di bawah ini!
1. Pahami Dulu: Apa Sih “Brand Voice” Versi Visual?
Singkatnya, brand voice secara visual adalah cara sebuah merek menyampaikan emosi, nilai, dan kepribadiannya tanpa perlu bersuara.
Sebelum lo milih font atau warna, lo harus tahu dulu brand lo itu tipe orang yang kayak gimana:
-
Apakah tipe yang santai, humoris, dan asyik diajak nongkrong (kayak brand skincare lokal)?
-
Apakah tipe yang elegan, misterius, dan old money (kayak brand parfum luxury)?
-
Atau tipe yang tegas, profesional, dan serius (kayak lembaga keuangan)?
Jawabannya bakal jadi kompas utama buat milih elemen visual lo nanti!
2. Pilihan Tipografi: Font Mana yang “Gue Banget”?
Font itu ibarat intonasi suara manusia. Pilihan jenis huruf yang lo pakai bisa mengubah persepsi audiens secara instan.
-
Serif (Klasik, Elegan, Terpercaya): Font yang punya “kaki” di ujungnya (seperti Times New Roman atau Playfair Display). Cocok banget buat brand yang mau nunjukin kesan mewah, bersejarah, atau formal.
-
Sans Serif (Modern, Ramah, Clean): Font tanpa kaki (seperti Inter, Helvetica, atau Poppins). Favoritnya anak-anak startup dan produk kekinian karena gampang dibaca di layar HP dan kelihatan fresh.
-
Display / Script (Kreatif, Fun, Unik): Font dekoratif atau tulisan tangan. Pas banget buat brand yang mau kelihatan playful, ekspresif, dan gak kaku. Tapi ingat, pakaikan secukupnya aja biar gak bikin pusing!
Tips Visual: Jangan pernah pakai lebih dari 2-3 font berbeda dalam satu identitas brand. Pilihlah satu font buat Judul (Heading) dan satu font buat Isi Teks (Body Text).
3. Psikologi Elemen Visual: Bentuk Juga Punya “Suara”
Gak cuma huruf, bentuk-bentuk dasar (shapes) yang lo pakai di dalam desain juga nyimpan pesan tersirat buat otak audiens:
-
Bentuk Melingkar & Organik (Lingkaran, Gelombang, Kurva): Memberikan emosi yang ramah, kehangatan, kelembutan, dan komunitas. Sangat cocok buat produk wellness, komunitas, atau skincare.
-
Bentuk Tajam & Geometris (Persegi, Segitiga, Garis Tegas): Menyampaikan stabilitas, kekuatan, efisiensi, dan profesionalisme. Sering dipakai di industri teknologi, olahraga, atau korporat.
4. Bikin “Style Guide” Biar Visual Lo Gak Meringis (Konsisten!)
Rahasia terbesar dari brand besar yang viral dan legendary sebenarnya cuma satu: KONSISTENSI.
Sebagus apa pun kombinasi font dan elemen visual lo, kalau tiap minggu gaya desainnya berubah-ubah (Senin pakai gaya cyberpunk, Rabu pakai gaya coquette/vintage), audiens bakal bingung dan brand lo gagal ngebangun identitas.
Buat yang namanya Brand Style Guide (Buku Panduan Visual) sederhana yang berisi:
-
Kombinasi font wajib (Heading & Body Text).
-
Palet warna utama dan sekunder.
-
Gaya ilustrasi atau filter foto yang boleh dan gak boleh dipakai.
Penulis: zahra smkss2 muara bungo



Leave a Reply