Mengapa Desainer Grafis Perlu Paham Information Architecture

Mengapa Desainer Grafis Perlu Paham Information Architecture

Mengapa Desainer Grafis Perlu Paham Information Architecture

Gubuku – Pernah gak sih lo buka suatu website atau aplikasi yang visualnya sumpah keren banget—pilihan font-nya estetik, warnanya kekinian, pokoknya pleasing to the eye banget. Tapi pas lo mau nyari tombol checkout atau menu bantuan, lo malah pusing sendiri karena navigasinya muter-muter gak jelas?

Ending-nya? Ya pasti lo langsung close aplikasi itu dan nyari alternatif lain.

Nah, di situlah letak masalahnya. Banyak desainer grafis pemula yang terlalu fokus bikin desain yang “cantik”, tapi lupa bikin desain yang “fungsional”. Padahal di industri kreatif modern, kemampuan menata informasi alias Information Architecture (IA) itu hukumnya wajib!

Penasaran kenapa desainer grafis gak boleh buta soal IA? Yuk, kita bedah bareng-bareng!

Apa Sih Information Architecture (IA) Itu?

Biar gak pusing sama istilah teknisnya, bayangin Information Architecture (IA) itu kayak denah dan struktur penataan di dalam supermarket.

Kalau lo masuk supermarket, lorong makanan, minuman, dan alat mandi udah dikelompokkan dengan rapi lengkap dengan papan petunjuk di atasnya. Lo jadi gampang nyari barang yang lo butuhin tanpa harus muterin seluruh isi toko, kan?

Nah, IA di dunia desain adalah seni dan ilmu mengorganisir, mengelompokkan, dan menyusun informasi dalam media visual (seperti website, aplikasi, poster, hingga katalog) biar audiens bisa nemuin apa yang mereka cari dengan cepat dan tanpa mikir keras.

Alasan Kenapa Desainer Grafis Wajib Paham IA

1. Desain Cantik Gak Ada Artinya Kalau Bikin Bingung (Usability First!)

Visual yang estetik emang bisa manjaalin mata di detik pertama. Tapi kalau audiens bingung gimana cara bacanya atau di mana harus nge-klik, desain lo dianggap gagal. Paham IA ngebantu lo menyeimbangkan antara estetika dan kenyamanan pengguna (user experience).

2. Membimbing Mata Audiens Lewat Visual Hierarchy

Dengan IA, lo gak asal nempelin teks atau gambar di kanvas. Lo jadi tahu cara ngatur Hierarchy (hirarki visual):

  • Mana judul utama yang harus dibaca pertama kali (ukuran besar/tebal).

  • Mana informasi pendukung yang dibaca kedua.

  • Mana tombol aksi (Call to Action) yang harus menonjol biar langsung diklik.

3. Langkah Awal Buat Level-Up ke UI/UX Design (Biar Gaji Makin Legit!)

Kalau lo mau karir desain lo naik kelas dan bayarannya makin tebal, paham IA adalah bridge terbaik buat nyebrang dari sekadar Graphic Designer menjadi UI/UX Designer. Di industri tech, desainer yang paham cara menyusun alur informasi (user flow) harganya mahal banget, lho!

4. Bikin Klien Auto Respek Pas Lo Presenting

Saat lo ngasih hasil desain ke klien, lo gak cuma bilang, “Ini desainnya bagus karena saya suka warna birunya.”

Tapi lo bisa ngomong secara profesional: “Saya taruh bagian ini di atas dengan alur struktur IA tertentu supaya calon pembeli langsung paham keunggulan produk dalam 3 detik pertama.” Auto kelihatan smart dan kredibel di mata klien!

Contoh Penerapan IA dalam Desain Sehari-hari

Biar makin kebayang, coba bandingkan dua pendekatan ini:

Tanpa Information Architecture (IA) ❌ Menggunakan Information Architecture (IA) ✅
Semua teks ukurannya sama besar, bikin mata bingung fokus ke mana dulu. Menggunakan hirarki ukuran teks (Heading, Sub-heading, Body text).
Menu navigasi berantakan, tombol penting tersembunyi. Informasi dikelompokkan sesuai kategori yang logis dan gampang dicari.
Pengguna butuh waktu lama buat paham isi konten. Pengguna langsung paham maksud desain dalam hitungan detik.

Gimana Cara Mulai Belajar IA Buat Pemula?

Gak usah merasa terintimidasi dulu, bestie! Lo bisa mulai latihan IA lewat langkah sederhana ini:

  1. Latihan Card Sorting: Coba tulis poin-poin informasi dari suatu proyek di kertas kecil, lalu kelompokkan mana informasi yang sejenis.

  2. Bikin Wireframe Sederhana: Sebelum masuk ke tahap pewarnaan dan perintilan visual di Figma/Photoshop, bikin sketsa hitam-putih (layout) dulu buat mastiin struktur posisinya udah pas.

  3. Bedah Aplikasi Populer: Coba perhatiin aplikasi yang sering lo pakai kayak Instagram, Gojek, atau Spotify. Pikirkan kenapa mereka menaruh tombol dan menu di posisi tersebut.

penulis : diah smkn 8 bungo