Sebelum Mulai Membuat Konsep Desain

Sebelum Mulai Membuat Konsep Desain

Sebelum Mulai Membuat Konsep Desain

Gubuku –

Pernah gak sih lo udah begadang semalaman bikin desain yang lo pikir super slay dan estetik, tapi pas dikirim ke klien jawabannya cuma: “Hmm, kurang dapet feel-nya deh, mas. Coba diganti total ya?”

Jreeng! Seketika mood hancur, mata panda sia-sia, dan lo terjebak di lingkaran setan revisi tanpa akhir.

Jujur aja, penyebab utama kenapa desain lo sering ditolak itu bukan karena skill lo jelek, bestie. Tapi karena salah paham di awal alias kurang briefing. Sebelum lo buru-buru buka Adobe Illustrator atau Figma, ada baiknya lo “interogasi” klien lo dulu lewat 10 pertanyaan sakral ini!

1. “Tujuan utama dari proyek desain ini apa?”

Jangan sampai lo bikin desain yang cuma cantik visualnya tapi gak nyampein maksud apa-apa. Tanyakan apakah mereka mau nambahin brand awareness, jualan produk biar laku keras (conversion), atau cuma buat ngumumin event tertentu. Beda tujuan, beda juga pendekatan konsep visualnya!

2. “Siapa target audiens yang mau disasar?”

Desain buat ibu-ibu pengajian jelas beda banget sama desain buat anak skena nongkrong. Lo harus tahu demografi audiens mereka:

  • Berapa usianya?

  • Apa hobi dan kebiasaan mereka?

  • Gaya visual apa yang bikin mereka tertarik buat melirik?

3. “Pesan utama apa yang harus langsung ditangkap dalam satu detik?”

Pernah gak sih lo udah begadang semalaman bikin desain yang lo pikir super slay dan estetik, tapi pas dikirim ke klien jawabannya cuma: “Hmm, kurang dapet feel-nya deh, mas. Coba diganti total ya?”

Jreeng! Seketika mood hancur, mata panda sia-sia, dan lo terjebak di lingkaran setan revisi tanpa akhir.

Jujur aja, penyebab utama kenapa desain lo sering ditolak itu bukan karena skill lo jelek, bestie. Tapi karena salah paham di awal alias kurang briefing. Sebelum lo buru-buru buka Adobe Illustrator atau Figma, ada baiknya lo “interogasi” klien lo dulu lewat 10 pertanyaan sakral ini!

Baca Juga  Cara Membuat Brosur di Canva

1. “Tujuan utama dari proyek desain ini apa?”

Jangan sampai lo bikin desain yang cuma cantik visualnya tapi gak nyampein maksud apa-apa. Tanyakan apakah mereka mau nambahin brand awareness, jualan produk biar laku keras (conversion), atau cuma buat ngumumin event tertentu. Beda tujuan, beda juga pendekatan konsep visualnya!

2. “Siapa target audiens yang mau disasar?”

Desain buat ibu-ibu pengajian jelas beda banget sama desain buat anak skena nongkrong. Lo harus tahu demografi audiens mereka:

  • Berapa usianya?

  • Apa hobi dan kebiasaan mereka?

  • Gaya visual apa yang bikin mereka tertarik buat melirik?

3. “Pesan utama apa yang harus langsung ditangkap dalam satu detik?”

Di era short attention span sekarang, orang cuma butuh hitungan detik buat nentuin bakal berhenti scrolling atau lanjut. Tanyakan ke klien: “Kalau audiens cuma lihat desain ini sepintas, pesan apa yang wajib mereka ingat?”

4. “Vibe atau kepribadian brand seperti apa yang mau ditampilin?”

Biar lo gak salah milih warna dan font, lo butuh kata kunci vibe dari klien. Minta mereka sebutin 3 kata sifat yang menggambarkan brand mereka. Contohnya: Fun, Energetic, Bold ATAU Professional, Elegant, Minimalist.

5. “Ada contoh desain (referensi) yang disukai dan GAK disukai?”

Ini trik paling ampuh buat menghindari ajakan “bebas deh gimana kreatifnya kamu” yang berujung revisi masif.

  • Yang Disukai: Buat acuan arah estetika (moodboard).

  • Yang Gak Disukai: Buat batasan biar lo gak mengulangi hal yang dibenci klien.

Pro Tip: Visual itu subjektif. Apa yang menurut klien “modern” belum tentu sama dengan definisi “modern” versi lo. Jadi, wajib pakai acuan gambar riil!

6. “Siapa aja kompetitor utama dari brand ini?”

Pertanyaan ini bakal bikin lo kelihatan kayak desainer tingkat senior! Lo perlu tahu siapa pesaing bisnis mereka biar lo gak bikin desain yang kembar atau mirip-mirip. Tujuan desain grafis itu bikin brand klien lo standout alias beda dari yang lain.

Baca Juga  Panduan Mengatur Asset Library Agar Gak Pusing

7. “Elemen wajib apa aja yang harus masuk di dalam desain?”

Jangan sampai pas desain udah selesai, klien baru bilang: “Lho, logo halal dan barcode-nya kok belum dimasukin?” Pastikan lo udah dapet daftar assets wajib dari awal, seperti:

  • Logo versi high-resolution (.PNG atau SVG)

  • Teks/Copywriting yang sudah fix (tanpa typo)

  • Foto produk asli atau sertifikasi khusus.

8. “Di mana aja desain ini bakal dipajang atau dipakai?”

Beda media, beda juga teknis pembuatannya:

  • Digital (Medsos/Web): Pakai format warna RGB dan rasio layar yang sesuai (1:1, 9:16, dll).

  • Cetak (Brosur/Baliho): Wajib pakai format warna CMYK dengan resolusi tinggi ( minimal 300 DPI) plus area bleed.

9. “Kapan deadline pastinya dan gimana alur peninjauannya?”

Penjelasannya harus spesifik, gak bisa cuma “secepatnya ya!”. Tentukan tanggal pasti pengiriman draft pertama dan berapa lama batas waktu klien buat ngasih masukan (feedback). Biar kerjaan lo terstruktur dan gak numpuk sama proyek lain.

10. “Siapa pengambil keputusan akhir (decision maker) di proyek ini?”

Sering terjadi: lo udah diskusi panjang lebar sama Marketing Staff, tapi pas desain selesai, si CEO / Owner malah nolak karena beda selera. Selalu pastikan orang yang punya hak veto akhir ikut menyetujui brief dan moodboard sejak awal!

4. “Vibe atau kepribadian brand seperti apa yang mau ditampilin?”

Biar lo gak salah milih warna dan font, lo butuh kata kunci vibe dari klien. Minta mereka sebutin 3 kata sifat yang menggambarkan brand mereka. Contohnya: Fun, Energetic, Bold ATAU Professional, Elegant, Minimalist.

5. “Ada contoh desain (referensi) yang disukai dan GAK disukai?”

Ini trik paling ampuh buat menghindari ajakan “bebas deh gimana kreatifnya kamu” yang berujung revisi masif.

  • Yang Disukai: Buat acuan arah estetika (moodboard).

  • Yang Gak Disukai: Buat batasan biar lo gak mengulangi hal yang dibenci klien.

Pro Tip: Visual itu subjektif. Apa yang menurut klien “modern” belum tentu sama dengan definisi “modern” versi lo. Jadi, wajib pakai acuan gambar riil!

6. “Siapa aja kompetitor utama dari brand ini?”

Pertanyaan ini bakal bikin lo kelihatan kayak desainer tingkat senior! Lo perlu tahu siapa pesaing bisnis mereka biar lo gak bikin desain yang kembar atau mirip-mirip. Tujuan desain grafis itu bikin brand klien lo standout alias beda dari yang lain.

Baca Juga  Bikin Desain Merchandise Band: Dari Kaos Over Size Sampai Stiker Vinyl

7. “Elemen wajib apa aja yang harus masuk di dalam desain?”

Jangan sampai pas desain udah selesai, klien baru bilang: “Lho, logo halal dan barcode-nya kok belum dimasukin?” Pastikan lo udah dapet daftar assets wajib dari awal, seperti:

  • Logo versi high-resolution (.PNG atau SVG)

  • Teks/Copywriting yang sudah fix (tanpa typo)

  • Foto produk asli atau sertifikasi khusus.

8. “Di mana aja desain ini bakal dipajang atau dipakai?”

Beda media, beda juga teknis pembuatannya:

  • Digital (Medsos/Web): Pakai format warna RGB dan rasio layar yang sesuai (1:1, 9:16, dll).

  • Cetak (Brosur/Baliho): Wajib pakai format warna CMYK dengan resolusi tinggi ( minimal 300 DPI) plus area bleed.

9. “Kapan deadline pastinya dan gimana alur peninjauannya?”

Penjelasannya harus spesifik, gak bisa cuma “secepatnya ya!”. Tentukan tanggal pasti pengiriman draft pertama dan berapa lama batas waktu klien buat ngasih masukan (feedback). Biar kerjaan lo terstruktur dan gak numpuk sama proyek lain.

10. “Siapa pengambil keputusan akhir (decision maker) di proyek ini?”

Sering terjadi: lo udah diskusi panjang lebar sama Marketing Staff, tapi pas desain selesai, si CEO / Owner malah nolak karena beda selera. Selalu pastikan orang yang punya hak veto akhir ikut menyetujui brief dan moodboard sejak awal!