Gubuku – Pernah gak sih lo udah semangat banget dapet proyek desain, udah nge-brainstorm ide sampai begadang, eh pas kerjaan beres, si klien malah menghilang bak ditelan bumi? Atau pas ditagih pelunasan, alasannya seribu satu macam alias ghosting?
Fix, itu namanya lo kena zonk karena gak menerapkan sistem DP (Down Payment) di awal.
Di dunia freelance, DP itu bukan cuma soal duit jajan di muka, tapi itu adalah jaminan komitmen. Klien yang beneran niat kerja sama gak bakal keberatan kok bayar DP. Tapi ingat, nentuin sistem DP juga ada triknya biar kedua belah pihak merasa aman dan bebas dari modus penipuan.
Biar dompet lo tetep aman dan mental lo gak kena, yuk simak cara nentuin sistem pembayaran DP yang aman dan profesional di bawah ini!
1. Pakai Formula Standar Industri (Jangan Kerendahan!)
Berapa sih nominal DP yang ideal? Jangan sampai lo ngasih DP kekecilan (misal cuma 10%) karena kalau klien kabur, rugi waktu lo gak bakal ketutup.
Berikut persentase DP yang paling sering dipakai pro designer:
-
Sistem 50:50 (Paling Populer): 50% di awal sebelum lo buka software desain, dan 50% pelunasan setelah proyek selesai sebelum final file (HD/master) dikirim.
-
Sistem Term (30:40:30): Cocok buat proyek gede yang butuh waktu berbulan-bulan (misal UI/UX website). 30% DP awal, 40% setelah progres tengah jalan (mid-project), dan 30% pelunasan akhir.
2. Hitung “Minimal DP” Berdasarkan Tahapan Kerja
Kalau proyeknya kecil atau kliennya masih ragu, lo bisa akalin dengan sistem milestone atau tahapan terkecil.
Misal, lo dapet proyek bikin 5 desain feeds Instagram. Lo bisa minta DP senilai harga 2 desain dulu. Bilang ke klien: “DP ini untuk mencakup pembuatan 2 konsep awal ya, Kak.” Jadi, kalau amit-amit di tengah jalan mereka nge-cut proyeknya, lo gak rugi-rugi amat karena tenaga lo di awal udah terbayar.
3. Selalu Sediakan Surat Perjanjian Kerja (Invoices & Kontrak)
“Ah, kan cuma proyek temen sendiri, gak usah pakai kontrak lah.” Eits, justru dari temen sendiri biasanya yang paling rawan ghosting, bestie!
Sebelum klien transfer DP, biasakan kirim Invoice Resmi dan Kontrak Kerja Singkat (bisa lewat Google Docs atau PDF). Di dalam kontrak itu wajib tertulis:
-
DP yang sudah dibayarkan Sifatnya Non-Refundable (Gak bisa dikembalikan kalau klien tiba-tiba batalin sepihak).
-
Jumlah revisi yang didapat dengan nominal DP tersebut.
-
Final file (file master/High-Res) baru bakal dikirim SETELAH pelunasan 100% masuk rekening.
4. Manfaatkan Platform Rekber (Rekening Bersama) / Escrow
Kalau lo dapet klien baru dari media sosial yang belum ketahuan track record-nya, atau lo main di ranah internasional, jangan langsung transaksi via transfer bank pribadi kalau ragu.
Gunakan pihak ketiga yang aman:
-
Lokal: Bikin custom room atau transaksi lewat e-commerce terpercaya, atau pakai platform khusus freelance Indonesia.
-
Internasional: Pakai Upwork, Fiverr, atau PayPal (gunakan fitur Invoicing mereka). Sistem escrow di platform ini bakal nahan duit klien dulu. Begitu lo kelar ngerjain tugas sesuai brief, duitnya otomatis cair ke akun lo. Aman dari penipuan dua arah!
5. Tahan File Master Sampai Pelunasan Masuk
Ini aturan paling suci dan haram hukumnya buat dilanggar: Jangan pernah ngasih file mentah (.psd, .ai, .fig) atau file resolusi tinggi sebelum pelunasan dibayar.
Pas masa asistensi atau nyerahin progres kerjaan, selalu kirim file dalam bentuk:
-
Resolusi rendah (Low-Res).
-
Dikasih Watermark segede gaban di tengah-tengah desain.
-
Kirim dalam format mockup 3D biar gak bisa di-crop atau dicolong langsung sama klien nakal.




Leave a Reply