Gubuku – Pernah nggak sih kamu lagi scroll TikTok atau Instagram, terus nemu iklan produk “ramah lingkungan” yang logo-nya daun hijau lagi? Bukannya tergerak buat beli, yang ada malah mikir, “Ah, paling greenwashing doang.”
Jujur aja, simbol daun hijau itu udah krisis identitas. Gen Z udah makin kritis dan kebal sama visual ekologi yang copy-paste dan boomer-coded. Kalau kamu mau pesan isu lingkunganmu didengar, paham, dan mendadak viral di kalangan Gen Z, saatnya buang jauh-juju logo daun hijau dan pakai pendekatan yang jauh lebih fresh.
1. Pakai Visual ‘Chaos’ dan Estetika Absurd Gen Z itu rajanya humor absurd (brainrot humor) dan visual yang autentik. Daripada pajang foto pohon rindang dengan font rapi yang ngebosenin, coba pakai gaya visual yang relatable:
-
Meme Culture: Visualisasikan dampak perubahan iklim lewat pop culture memes yang lagi ngetren.
-
Lo-Fi & Raw Content: Video pendek format POV tanpa filter berlebihan jauh lebih dipercaya dibanding video sinematik ala iklan TV.
2. Fokus ke ‘Self-Preservation’, Bukan Cuma ‘Save the Planet’ Narasikan isu ekologi bukan cuma soal “kasihan bumi,” tapi soal dampaknya ke hidup kita sehari-hari. Gen Z sangat peduli dengan kesehatan mental dan kualitas hidup.
-
Bad: “Mari kurangi sampah plastik demi kelangsungan laut.”
-
Good: “Mikroplastik udah nemu jalan ke galon dan makanan kita. Ini cara gampang biar hormon kamu nggak acak-adut gara-gara plastik.”
3. Gunakan ‘Visual Metaphor’ yang Nggak Biasa Tinggalkan warna hijau dan cokelat bumi. Eksplorasi palet warna dan simbolik baru yang bikin orang berhenti scrolling:
-
Warna Neon/Cyberpunk: Menggambarkan kontras antara dunia digital dan krisis lingkungan nyata.
-
Objek Sehari-hari: Bandingkan tumpukan baju fast fashion dengan ketinggian gedung, atau jumlah botol plastik dengan ukuran kamar tidur. Visual konkret jauh lebih menusuk daripada gambar daun berteteskan air embun.
penulis: zahra dari smkss2




Leave a Reply