Gubuku- Strategi Mengikuti Tren Pinterest Tanpa Kehilangan Identitas Brand
Pinterest bukan cuma tempat mencari inspirasi. Platform ini juga bisa menjadi sumber traffic, tempat membangun brand, dan peluang mendapatkan cuan. Tapi ada satu tantangan yang sering dialami pemilik bisnis atau content creator: gimana caranya ikut tren Pinterest tanpa membuat brand terlihat ikut-ikutan?
Jawabannya adalah dengan mengikuti tren yang relevan, lalu mengemasnya menggunakan gaya khas brand sendiri.
Apa Itu Tren Pinterest?
Tren Pinterest adalah topik, kata kunci, gaya visual, ide konten, atau tema yang sedang banyak dicari dan diminati pengguna Pinterest.
Misalnya, tren desain minimalis sedang naik. Kamu bisa ikut membahas desain minimalis, tetapi tidak harus meniru konten orang lain. Gunakan warna, font, gaya visual, dan cara penyampaian yang sesuai dengan identitas brand kamu.
Jadi, ikut tren bukan berarti copy-paste konten yang sedang viral.
Kenapa Brand Perlu Mengikuti Tren Pinterest?
Mengikuti tren bisa membantu konten mendapatkan lebih banyak perhatian karena topik tersebut sedang memiliki minat tinggi.
Beberapa manfaatnya antara lain:
- Meningkatkan peluang konten ditemukan pengguna.
- Membantu mendapatkan traffic ke website.
- Menjangkau audiens baru.
- Membuat konten tetap relevan.
- Membuka peluang meningkatkan engagement.
- Membantu brand memahami apa yang sedang diminati target audiens.
Namun, terlalu mengikuti tren juga bisa menjadi masalah jika semua konten terlihat sama dengan kompetitor.
Karena itu, tren harus menjadi bahan inspirasi, bukan identitas utama brand.
Strategi Mengikuti Tren Pinterest Tanpa Kehilangan Identitas Brand
1. Kenali Identitas Brand Terlebih Dahulu
Sebelum mengikuti tren, tentukan dulu karakter brand kamu.
Misalnya:
- Warna utama brand.
- Gaya desain.
- Cara berbicara dengan audiens.
- Jenis konten.
- Target audiens.
- Nilai atau pesan yang ingin disampaikan.
Dengan identitas yang jelas, kamu akan lebih mudah menentukan tren mana yang cocok dan mana yang sebaiknya dilewati.
2. Pilih Tren yang Relevan dengan Niche
Jangan mengikuti semua tren hanya karena sedang populer.
Pilih tren yang masih berhubungan dengan niche dan target audiens.
Contohnya, jika brand kamu membahas teknologi, kamu bisa mengikuti tren tentang AI, aplikasi produktivitas, atau teknologi terbaru.
Sebaliknya, tren yang tidak berhubungan dengan niche justru bisa membuat positioning brand menjadi kurang jelas.
Prinsipnya simpel: tren boleh berubah, tetapi niche tetap konsisten.
3. Gunakan Visual Khas Brand
Pinterest sangat mengandalkan visual. Karena itu, identitas visual menjadi salah satu bagian terpenting.
Saat membuat konten berdasarkan tren, tetap gunakan elemen khas brand seperti:
- Warna brand.
- Font yang konsisten.
- Logo atau watermark.
- Gaya ilustrasi.
- Layout yang khas.
- Tone visual yang sama.
Dengan begitu, meskipun topiknya mengikuti tren, orang tetap bisa mengenali bahwa konten tersebut berasal dari brand kamu.
4. Jangan Copy Konten yang Sedang Viral
Mengikuti tren bukan berarti menyalin desain, judul, atau konsep milik akun lain.
Lebih baik gunakan tren sebagai starting point, kemudian buat versi yang lebih sesuai dengan brand.
Misalnya tren yang sedang populer adalah “tips produktivitas”.
Daripada membuat konten yang sama persis dengan akun lain, kamu bisa mengubahnya menjadi:
“7 Tips Produktivitas untuk Gen Z yang Sering Menunda Pekerjaan”
Topiknya tetap mengikuti tren, tetapi sudut pandangnya dibuat lebih spesifik.
5. Tambahkan Sudut Pandang Brand
Ini salah satu cara paling efektif untuk tetap punya identitas.
Setiap kali menemukan tren, tanyakan:
“Apa versi brand saya dari tren ini?”
Misalnya tren membahas penggunaan AI untuk bisnis.
Brand kamu yang fokus pada UMKM bisa membuat:
“5 Cara AI Membantu UMKM Menghemat Waktu”
Dengan cara ini, tren menjadi bagian dari strategi konten, bukan mengubah arah brand.
6. Gunakan Keyword Pinterest Secara Natural
SEO Pinterest juga penting. Gunakan keyword yang relevan pada:
- Judul Pin.
- Deskripsi Pin.
- Nama board.
- Alt text jika tersedia.
- Artikel atau halaman website yang dituju.
Jangan memasukkan keyword secara berlebihan. Buat kalimat tetap natural dan mudah dipahami.
Contohnya, jika keyword utama adalah “strategi Pinterest untuk bisnis”, kamu bisa membuat judul:
“Strategi Pinterest untuk Bisnis: Cara Mengikuti Tren Tanpa Kehilangan Identitas Brand”
Keyword tetap masuk, tetapi judul masih terasa natural.
7. Buat Template Konten yang Konsisten
Membuat template bisa membantu brand terlihat lebih profesional dan mudah dikenali.
Kamu bisa memiliki beberapa template seperti:
Saat tren baru muncul, kamu tinggal memasukkan topik tersebut ke template yang sudah menjadi ciri khas brand.
Hasilnya, konten tetap fresh tanpa harus mengubah seluruh identitas visual.
8. Bedakan Tren dengan Identitas Brand
Ini bagian yang penting.
Tren = sesuatu yang bisa berubah.
Identitas brand = sesuatu yang harus konsisten.
Misalnya tren warna berubah dari pastel menjadi warna gelap. Kamu boleh menyesuaikan sedikit desain agar tetap relevan, tetapi jangan sampai seluruh tampilan brand berubah hanya karena tren.
Brand yang kuat biasanya bisa mengikuti perubahan tanpa kehilangan karakter.
9. Uji Tren dengan Beberapa Konten
Tidak semua tren akan berhasil untuk setiap brand.
Karena itu, jangan langsung mengubah seluruh strategi konten.
Coba buat beberapa Pin dengan tema yang sedang tren. Kemudian lihat performanya.
Perhatikan:
- Jumlah impresi.
- Klik.
- Saves.
- Engagement.
- Traffic ke website.
- Konversi jika tujuan akhirnya adalah penjualan.
Dari data tersebut, kamu bisa mengetahui tren mana yang benar-benar cocok untuk audiens.
10. Tetap Konsisten dengan Tujuan Brand
Jangan sampai mengejar views membuat tujuan utama brand terlupakan.
Jika tujuan Pinterest kamu adalah mendapatkan traffic website, arahkan Pin ke artikel yang relevan.
Jika tujuannya menjual produk, buat konten yang membantu audiens memahami manfaat produk.
Kalau tujuannya membangun awareness, fokus pada konten yang memperkenalkan nilai dan karakter brand.
Jadi, viral itu bonus, bukan satu-satunya tujuan.
Contoh Penerapan Strategi Tren Pinterest
Misalnya kamu memiliki brand yang membahas AI untuk Gen Z.
Saat tren “AI untuk produktivitas” sedang ramai, kamu tidak perlu membuat konten yang sama seperti semua akun lain.
Kamu bisa mengemasnya menjadi:
Tren: AI untuk produktivitas
Keyword: AI untuk produktivitas, tools AI, produktivitas Gen Z
Sudut pandang: AI untuk pelajar dan content creator
Visual: Tetap menggunakan warna dan font khas brand
CTA: Arahkan audiens ke artikel lengkap di website
Dengan strategi ini, kamu mendapatkan manfaat dari tren sekaligus tetap mempertahankan karakter brand.
Kesalahan yang Harus Dihindari
Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya tidak dilakukan ketika mengikuti tren Pinterest.
Mengikuti Semua Tren
Tidak semua tren cocok untuk brand. Pilih yang sesuai dengan niche dan audiens.
Mengubah Identitas Visual Terlalu Sering
Terlalu sering mengganti warna, font, dan gaya desain bisa membuat audiens sulit mengenali brand.
Terlalu Fokus pada Viral
Konten viral belum tentu menghasilkan traffic, leads, atau penjualan.
Meniru Kompetitor
Gunakan konten kompetitor sebagai referensi untuk memahami tren, bukan untuk menyalinnya.
Mengabaikan Data
Jangan hanya mengandalkan feeling. Gunakan performa Pin untuk menentukan strategi berikutnya.
Tips Agar Brand Tetap Konsisten di Pinterest
Agar lebih gampang, kamu bisa menggunakan aturan sederhana:
70% konten evergreen + 20% konten mengikuti tren + 10% eksperimen.
Konten evergreen menjadi fondasi utama. Konten tren digunakan untuk mendapatkan peluang traffic tambahan, sedangkan konten eksperimen digunakan untuk mencoba format atau ide baru.
Persentase tersebut bukan aturan wajib. Kamu bisa menyesuaikannya berdasarkan niche dan hasil analisis akun.
penulis : Ghiyas – SMKN 9 Bungo




Leave a Reply