Neubrutalism Sangat Populer di Kalangan Brand Teknologi

Neubrutalism Sangat Populer di Kalangan Brand Teknologi

Neubrutalism Sangat Populer di Kalangan Brand Teknologi

Gubuku – Kalau lo sering buka aplikasi fintech, main ke website software, atau sekadar scrolling di Gumroad dan Figma, lo pasti ngeh sama satu tren visual yang makin jamak belakangan ini: garis hitam tebal, warna-warna kontras yang ngejreng, bayangan kaku, dan elemen retro yang sengaja dibuat gak rapi.

Beda banget sama tren desain era 2010-an yang serba halus, soft, dan minimalis ala Apple, tren baru ini namanya Neubrutalism (atau Neo-Brutalism).

Pertanyaannya: Kok bisa sih gaya desain yang kelihatan “mentah” dan “berani” ini malah dipakai sama brand teknologi raksasa kayak Figma, Spotify, hingga Gumroad? Yuk, kita bedah alasannya sampai tuntas!

1. Anti-Mainstream: Bosan Sama Desain “Corporate” yang Terlalu Rapi

Selama bertahun-tahun, brand teknologi terjebak dalam gaya yang sama: flat design minimalis, sudut rounded yang halus, dan palet warna pastel yang “aman”. Hasilnya? Semua website dan aplikasi kelihatan sama aja alias membosankan!

Neubrutalism hadir sebagai bentuk pemberontakan visual. Gaya ini nawarin sesuatu yang segar, beda, dan bikin mata langsung tertuju ke layar. Buat Gen Z yang cepat bosan sama hal-hal monoton, Neubrutalism itu ibarat napas baru yang penuh energi.

2. Unsur “Nostalgia Digital” (Y2K & Era Internet 90-an)

Gen Z itu terkenal banget dengan kecintaannya sama estetika pop kultur era Y2K dan internet zaman purba (tahun 90-an hingga awal 2000-an).

Neubrutalism berhasil mengawinkan estetika retro—kayak bentuk jendela Windows 95, tombol MS Paint, dan piksel tebal—dengan fungsi UI modern yang responsif. Nostalgia visual inilah yang bikin target audience anak muda merasa terhubung secara emosional.

3. Karakteristik Utama Neubrutalism (Biar Lo Gak Salah Bikin!)

Gimana sih cara nengenalin gaya Neubrutalism dalam sebuah desain? Ini dia ciri-cirinya:

  • Stroke & Outline Hitam Pekat: Semua tombol, card, dan kotak teks punya garis tepi hitam tebal tanpa efek gradient.

  • Warna High-Contrast: Penggunaan warna-warna primer/neon yang berani (kuning terang, hijau stabilo, ungu) yang ditabrakkan dengan warna dasar.

  • Hard Shadow (Bayangan Solid): Bayangan enggak pakai efek blur (drop shadow biasa), melainkan warna hitam padat dengan sudut 45 atau 90 derajat.

  • Tipografi Bold & Menonjol: Penggunaan font Sans-Serif atau Monospace tebal yang gampang dibaca dan berkesan straightforward.

Baca Juga  Mengatasi Masalah Color Shift dari Layar Monitor ke Mesin Cetak

4. Bikin UX Lebih Jelas dan “Klik-able”

Aneh tapi nyata, estetika yang kelihatan acak-acakan ini ternyata punya nilai fungsional (User Experience) yang oke banget!

Dengan outline tebal dan hard shadow, elemen interaktif seperti tombol “Buy Now”, “Sign Up”, atau kolom teks jadi sangat menonjol. Pengguna enggak perlu mikir dua kali buat nyari di mana harus nge-klik, karena tombolnya kelihatan jelas kayak tombol fisik di dunia nyata.

5. Menampilkan Kesan “Jujur, Transparan, dan Tanpa Basa-Basi”

Brand teknologi masa kini pengen kelihatan ramah dan approachable di mata Gen Z. Desain corporate yang terlalu licin dan rapi kadang malah terkesan dingin atau pura-pura sempurna.

Neubrutalism ngasih vibe: “Gak perlu jualan dengan kemasan manis yang berlebihan, produk gue emang sebagus itu kok.” Kesan mentah dan tanpa basa-basi inilah yang dinilai lebih autentik sama anak muda.

Perbandingan: Flat Design vs Neubrutalism

Elemen Flat Design Tradisional Neubrutalism
Garis Tepi (Border) Tipis atau tanpa border Hitam pekat & tebal
Bayangan (Shadow) Lembut, soft blur Padat/Solid, tajam, tanpa blur
Warna Pastel, soft gradient, aman Kontras tinggi, neon, berani
Kesan Visual Rapi, profesional, elegan Mentah, eksentrik, berenergi

penulis:bungasmksudj