eni Mendesain Wayfinding System

eni Mendesain Wayfinding System

eni Mendesain Wayfinding System

Gubuku –

Mendesain Wayfinding System: Papan Petunjuk Arah yang Informatif dan Estetik, Gak Bikin Nyasar!

Pernah gak sih lo masuk ke mall super besar, stasiun kereta, atau venue festival musik, terus malah kebingungan setengah mati nyari toilet atau pintu keluar? Vibes-nya langsung bikin panik dan pengen emosi, kan?

Nah, di sinilah pentingnya Wayfinding System!

Banyak orang mikir papan petunjuk arah itu cuma sekadar plang besi tulisan “EXIT” atau tanda panah biasa. Padahal, wayfinding system adalah gabungan antara desain grafis, arsitektur, dan psikologi manusia. Kalau desainnya jelek, orang bisa nyasar. Tapi kalau desainnya keren, selain fungsional, papan petunjuk itu bisa jadi spot foto yang estetik!

Biar lo gak bingung pas dapet proyekan bikin sistem penunjuk arah, yuk bedah rahasia mendesain wayfinding system yang informatif sekaligus visually pleasing di bawah ini!

Apa Itu Wayfinding System? (Bukan Cuma Tanda Panah!)

Secara simpel, wayfinding system adalah kumpulan elemen visual—seperti papan petunjuk, simbol, peta, dan warna—yang ngebantu orang buat tahu mereka lagi di mana dan harus jalan ke mana buat nyampe ke tujuan mereka tanpa harus nanya-nanya ke security.

Ada 4 jenis papan wayfinding yang wajib lo tahu:

  1. Identification Signs: Penanda lokasi (contoh: Plang tulisan “Toilet”, “Lobi Utama”, atau “Gate 3”).

  2. Directional Signs: Petunjuk arah buat navigasi (contoh: Tanda panah ke kanan buat ke “Area Parkir”).

  3. Informational Signs: Informasi umum tempat tersebut (contoh: Jam operasional atau aturan tempat).

  4. Orientation/Regulatory Signs: Peta “You Are Here” atau papan larangan.

Rahasia Mendesain Wayfinding System yang Informatif & Estetik

1. Kuncinya Ada di Legibility (Gampang Dibaca dari Jauh)

Visual estetik itu penting, tapi fungsi nomor satu! Gak ada gunanya lo pakai font kaligrafi atau pastel super cute kalau orang harus maju sejengkal dari papan cuma buat ngebaca tulisannya.

  • Pilih Font Typeface Sans Serif: Pakai font yang bersih dan tegas kayak Helvetica, Inter, Arial, atau Roboto.

  • Perhatikan Hirarki dan Ukuran: Makin jauh jarak pandang pengunjung, makin besar ukuran font dan simbol yang harus lo pakai.

Baca Juga  Analisis Desain Visual Umbul-Umbul

2. Manfaatkan Ikon & Piktogram Universal

Orang zaman sekarang itu males membaca teks panjang. Makanya, piktogram adalah penyelamat!

Gunakan simbol-simbol universal yang gampang dipahami semua orang dari berbagai bahasa. Misalnya simbol pria/wanita untuk toilet, atau ikon sendok-garpu untuk area food court. Pastikan gaya garis (stroke style) pada ikon yang lo desain seragam dari awal sampai akhir biar kelihatan konsisten.

3. Kontras Warna Adalah Kunci “Slay”

Biar papan petunjuk lo langsung pop-up dan kelihatan jelas dari kejauhan, lo harus pinter ngatur kontras warna antara background dan teks/simbol.

  • Teks gelap di atas background terang (contoh: Tulisan hitam di papan krem/putih).

  • Teks terang di atas background gelap (contoh: Tulisan putih di papan navy atau hitam).

  • Color Coding: Lo juga bisa manfaatin warna buat nandain zona. Misalnya, lantai 1 pakai aksen hijau, lantai 2 pakai aksen oranye. Ini ngebantu banget navigasi secara visual!

4. Bikin Nyatu Sama Lingkungan (Environmental Graphic Design)

Papan petunjuk yang estetik adalah papan yang gak kelihatan “asing” di bangunannya. Desainnya harus blend in sama konsep arsitektur tempat tersebut.

  • Kalau gedungnya berkonsep industrial, lo bisa pakai bahan besi, neon, atau kayu gelap dengan aksen minimalis.

  • Kalau gedungnya berkonsep modern-futuristik, lo bisa pakai bahan akrilik bening dengan lampu LED backlight yang estetik.

5. Pencahayaan & Penempatan yang Posisi “Eye Level”

Desain lo udah keren, tapi ditaruh di pojokan gelap yang ketutupan pohon? Auto gagal!

  • Pencahayaan: Pastikan papan petunjuk kelihatan jelas di malam hari. Gunakan bahan yang memantulkan cahaya (reflective) atau pakai lampu penerangan internal.

  • Posisi: Pasang di ketinggian yang wajar (eye level) atau gantung di area atas yang gak ketutupan sama kerumunan orang banyak.

Baca Juga  Cara Mengatur Color Swatches Kustom di Photoshop
Penulis :nur aliza – SMK Setih Setio 2