Gubuku – Sebagai desainer grafis atau kreator konten, momen paling bikin mengelus dada adalah saat dapet brief dari klien yang seleranya… well, unik. Maksudnya “unik” di sini adalah: minta semua font dibikin gede, warna tabrakan ala poster pasar kaget, atau pengen semua space kosong dipenuhi sama elemen visual yang gak penting.
Dilema banget, kan? Kalau diturutin, karya lo bakal ngerusak estetika portofolio. Tapi kalau ditolak terang-terangan, taruhannya proyek melayang dan gak jadi dapet cuan.
Tenang, bestie! Berhadapan sama klien yang selera visualnya kurang pas itu ada seninya. Biar lo gak stres sendirian atau berujung debat kusir di grup WhatsApp, yuk cobain trik elegan mengarahkan selera klien berikut ini!
1. Pahami Dulu: Klien Beli Solusi, Bukan Cuma Gambar
Langkah pertama yang harus lo tanamin di pikiran: klien itu bayar lo karena lo adalah ahlinya.
Sering kali, klien ngasih masukan visual yang norak bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka gak tahu cara menyampaikan tujuan bisnis mereka lewat visual.
-
Klien minta font super besar? Maksud aslinya: “Gue pengen informasi ini dibaca duluan sama pembeli.”
-
Klien minta warna merah menyala? Maksud aslinya: “Gue pengen promo ini kelihatan menonjol!”
Tugas lo adalah menerjemahkan “keinginan bisnis” mereka menjadi “eksekusi visual” yang tetap estetik dan masuk akal.
2. Gunakan “Metode Opsi A vs Opsi B” (Trik Paling Ampuh!)
Jangan pernah bilang ke klien, “Duh, selera Bapak/Ibu jelek banget, gak masuk di teori desain.” Auto fix lo bakal di-blacklist!
Sebagai gantinya, gunakan taktik menyajikan dua pilihan:
-
Opsi A: Buat desain yang 100% sesuai permintaan/keinginan klien (meskipun menurut lo agak maksa).
-
Opsi B: Buat desain versi ideal dari lo yang sudah diperbaiki prinsip visualnya tapi tetap menjawab tujuan mereka.
Saat dipresentasikan, kasih alasan yang logis (bukan berdasarkan selera pribadi). Kasih tahu kenapa Opsi B lebih efektif menarik perhatian target pasar mereka. Seringnya, pas disandingkan begitu, klien bakal sadar sendiri kalau Opsi B jauh lebih keren!
3. Pakai Data & Psikologi Visual, Bukan Perasaan
Kalau mau mendebat argumen klien, jangan pakai alasan “Soalnya yang ini kelihatan lebih estetik, Kak.” Kata “estetik” itu subjektif banget!
Gunakan alasan yang terukur berdasarkan psikologi desain:
-
“Warna ini dipilih karena menurut penelitian psikologi warna, warna biru memberikan kesan tepercaya untuk bisnis finansial.”
-
“Sisa ruang kosong (white space) ini sengaja disisakan biar mata audiens fokus ke produk utamanya, jadi gak pusing pas ngelihat di layar HP.”
Begitu lo bicara pakai data dan fungsi, klien bakal memandang lo sebagai profesional sejati, bukan cuma sekadar “tukang edit”.
4. Buat Moodboard di Awal (Biar Gak “Misscom”)
Banyak revisi ajaib terjadi karena dari awal gak ada kesepakatan arah visual. Biar gak buang-buang energi, wajib hukumnya bikin Moodboard sebelum lo mulai nyentuh software desain.
Kumpulkan referensi gambar, palet warna, dan gaya tipografi dalam satu papan visual (bisa pakai Pinterest atau Canva). Minta approval klien di tahap ini:
“Kak, kira-kira arah visual, vibes, dan warna untuk projek kita bakal kayak gini ya. Sudah sesuai sama bayangan Kakak?”
Kalau dari awal udah setuju sama moodboard-nya, bakal kecil kemungkinan klien minta revisi yang melenceng jauh di akhir.
5. Kapan Harus Mengalah? (Pilih Pertempuranmu!)
Kalau lo udah ngasih argumen logis, ngasih alternatif Opsi B, dan ngejelasin dari sudut pandang audiens tapi klien keukeuh tetap mau opsi mereka yang “kurang pas” itu… terima saja dengan lapang dada.
Ingat, pada akhirnya itu adalah produk dan keputusan mereka.
-
Solusinya: Selesaikan pekerjaan sesuai kemauan klien, ambil pembayarannya, dan gak perlu pajang karya tersebut di portofolio utama lo.
-
Simpan energi lo buat proyek lain yang lebih menghargai ide kreatif lo. Pick your battles, guys!
penulis;bungasmksudj




Leave a Reply