Gubuku – Pernah gak sih lo udah begadang semalaman bikin desain yang menurut lo masterpiece banget, tapi pas dipresentasiin ke klien atau atasan, respon mereka cuma: “Emm, kok warnanya biru ya? Ganti merah aja deh.” atau “Bisa gak elemen ini digeser dikit?”
Painful banget, kan?
Masalahnya, sering kali desain lo ditolak atau direvisi abis-abisan bukan karena visualnya jelek, tapi karena lo gak bisa menjelaskan alasan di balik keputusan desainmu (Design Rationale).
Di dunia kerja profesional, desainer andal itu gak cuma jago bikin gambar estetik, tapi juga jago “jualan” ide. Biar lo gak dipandang cuma sebagai “tukang ketik software” dan argumen desain lo selalu diterima dengan mantap, yuk simak panduan lengkapnya di bawah ini!
What & Why: Apa Sih Design Rationale Itu?
Singkatnya, Design Rationale adalah penjelasan logis di balik setiap elemen yang lo pilih dalam desain. Mulai dari kenapa lo pakai font tertentu, kenapa penataan tata letaknya begitu, sampai kenapa lo milih palet warna tersebut.
Kenapa ini krusial banget?
-
Membangun Trust: Klien/HRD makin yakin kalau lo itu expert yang paham strategi, bukan asal tempel elemen.
-
Ngerem Revisi Liar: Pas lo punya alasan yang kuat berbasis data atau teori, klien gak akan sembarangan minta ganti warna atau bentuk cuma berdasarkan “selera pribadi” mereka.
-
Kelihatan Lebih Profesional: Membedakan karya lo sama hasil template instan atau AI.
Formula 4 Langkah Menjelaskan Design Rationale (Gak Pakai Baper!)
Biar presentasi desain lo makin persuasif, lo bisa pakai formula simpel ini setiap kali mau ngasih penjelasan:
1. Hubungkan Selalu dengan Goal/Problem Klien
Jangan pernah mulai penjelasan dengan kata: “Gue pilih warna ini karena bagus/suka aja.” BIG NO! Selera lo gak penting buat bisnis klien.
Ganti narasi lo dengan menghubungkannya ke masalah atau tujuan mereka.
-
Salah ❌: “Saya pakai font Serif ini karena kelihatannya estetik dan keren.”
-
Benar ✅: “Karena target audiens brand ini adalah profesional muda yang butuh kesan terpercaya, saya memilih font Serif modern ini untuk memperkuat kesan elegan dan kredibel.”
2. Gunakan Prinsip Desain & Psikologi Visual
Tunjukkan kalau lo paham ilmu dasar desain (Color Theory, Hierarchy, Typography). Saat lo pakai istilah visual yang tepat, argumen lo bakal susah dipatahkan.
-
Contoh: “Tombol Call to Action (CTA) ini saya beri warna oranye menyala dengan ukuran paling besar di halaman ini. Tujuannya menciptakan visual hierarchy yang jelas, sehingga mata pengguna langsung tertuju ke sana saat pertama kali buka landing page.”
3. Pakai Data atau User Research (Jika Ada)
Gak ada yang bisa membantah data nyata. Kalau lo punya riset kecil-kecilan, data perilaku pengguna, atau acuan industry benchmark, cantumin!
-
Contoh: “Berdasarkan riset kompetitor dan perilaku pengguna Gen Z, 70% dari mereka lebih nyaman dengan navigasi di bagian bawah layar (bottom navigation) karena lebih gampang dijangkau pakai satu jempol.”
4. Tunjukkan Alternatif yang Pernah Lo Coba
Kadang klien bakal nanya, “Kenapa gak diginiin aja?”
Nah, sebelum mereka nanya, lo bisa bilang kalau lo udah pernah coba opsi itu dan jelasin kenapa opsi tersebut kurang efektif dibanding hasil akhir lo.
-
Contoh: “Sebelumnya saya sempat mencoba opsi background warna gelap, tapi setelah dites, tingkat keterbacaan teksnya (readability) berkurang signifikan. Makanya opsi warna terang ini jadi pilihan terbaik.”
Cheat Sheet: Contoh Cara Menjawab Pertanyaan Klien
Biar makin kebayang, ini tabel amunisi jawaban pro buat ngadepin pertanyaan klasik dari klien:
| Pertanyaan Klien 😵 | Cara Jawab Pakai Design Rationale 😎 |
| “Kok tulisan judulnya gede banget ya?” | “Ukuran judul sengaja dibikin menonjol untuk ngebantu audiens menangkap poin utama hanya dalam 3 detik pertama saat scrolling.” |
| “Bisa gak semua ruang kosong ini diisi gambar lagi?” | “Ruang kosong (white space) ini sengaja disisaib biar mata pembaca gak lelah dan fokus utamanya tetap ke produk yang ditiupkan.” |
| “Kenapa gak pakai warna merah aja biar ngejreng?” | “Warna biru dipilih karena secara psikologi menyampaikan rasa aman dan tenang, sesuai dengan nilai bisnis keuangan yang ingin kita bangun.” |
penulis: bunga smk sudj




Leave a Reply