“Form Follows Function” Masih Jadi Aturan dalam Desain Grafis?

“Form Follows Function” Masih Jadi Aturan dalam Desain Grafis?

“Form Follows Function” Masih Jadi Aturan dalam Desain Grafis?

Gubuku – Pernah gak sih lo ngeliat desain poster, feed Instagram, atau website yang kelihatannya rame, estetik, dan “seni banget”, tapi pas dilihat lagi… lo malah pusing dan gak paham maksud promosinya apa?

Nah, itu contoh klasik dari desain yang melupakan prinsip paling legendaris di dunia seni visual: “Form Follows Function” (Bentuk Mengikuti Fungsi).

Di era sekarang—di mana tren desain gonta-ganti tiap bulan dan aplikasi AI bisa bikin gambar estetik cuma dalam hitungan detik—prinsip tua ini sering banget dilupakan. Padahal, Form Follows Function itu masih jadi aturan emas yang bikin desainer pemula kelihatan beda dari desainer profesional!

Penasaran kenapa prinsip dari zaman purba ini masih relevan banget buat Gen Z? Yuk, kita bedah bareng-bareng!

Maksudnya “Form Follows Function” Itu Apaan Sih?

Biar gak kedengeran kayak dosen sejarah DKV, mari kita sederhanain:

  • Form (Bentuk): Elemen visual yang lo pakai. Contoh: pilihan font, warna, ilustrasi, foto, sampai efek-efek estetik lainnya.

  • Function (Fungsi): Pesan atau tujuan utama dari desain tersebut. Contoh: ngajak orang beli tiket, ngasih tau info diskon, atau bikin aplikasi gampang dipakai.

Prinsip ini bilang kalau tujuan (fungsi) harus selalu jadi prioritas utama, baru deh tampilan (bentuk) menyesuaikan. Ibarat lo mau beli sepatu running: yang penting nyaman dan empuk dulu buat lari (fungsi), baru cari yang warnanya keren (bentuk). Bukan kebalikannya!

3 Alasan Kenapa Aturan Ini Tetap “Slay” di Era Digital

1. Audiens Gen Z Punya Attention Span yang Pendek

Jujur aja, kita kalau scrolling TikTok atau Instagram cuma butuh waktu 2–3 detik buat nentuin mau lanjut baca atau swipe. Kalau desain lo kelewat heboh tapi pesannya ngelindur, audiens bakal langsung lewat gitu aja.

Baca Juga  Peluang Karier Desain Grafis di Era Digital

Desain yang fokus ke fungsi bakal langsung nyampein informasi penting secara kilat. Estetika itu penarik perhatian, tapi fungsi yang bikin orang paham.

2. Estetik Doang Gak Bakal Bikin Klien Happy

Klien bayar desainer grafis itu bukan cuma buat dipajang di galeri seni, tapi buat nyelesaiin masalah bisnis mereka.

  • Kalau lo bikin brosur restoran mewah tapi font-nya pakai gaya graffiti yang susah dibaca, klien lo bakal rugi karena pembeli bingung lihat menunya.

  • Desain yang bagus adalah desain yang berhasil menyampaikan pesan klien ke audiens yang tepat.

3. Cikal Bakal Dunia UI/UX Modern

Pernah ngutak-ngatik aplikasi belanja online yang tombol “Beli”-nya ngumpet atau warnanya nyaru sama background? Kesel, kan?

Di dunia User Interface (UI) dan User Experience (UX), prinsip Form Follows Function adalah hukum mati. Tata letak tombol, kontras warna, dan hierarki teks semuanya dirancang biar pengguna merasa nyaman dan gak kebingungan pas makai aplikasinya.

Gimana Cara Nerapinnya di Desain Lo?

Gampang kok! Tiap kali lo mau mulai bikin proyek desain baru, biasain tanyain 3 hal ini ke diri lo sendiri:

  1. “Apa tujuan utama desain ini?” (Edukasi, jualan, atau sekadar branding?)

  2. “Siapa target audiensnya?” (Anak skena, bapak-bapak pejabat, atau ibu-ibu muda?)

  3. “Apakah elemen ini beneran ngebantu pesan gue, atau cuma sekadar hiasan biar kelihatan heboh?”

Kalau ada elemen visual yang bikin desain lo malah makin ribet dan susah dibaca, delete aja! Keep it clear and functional.

penulis: bunga smksudj