Cara Merancang Brand Guidelines yang Komprehensif

Cara Merancang Brand Guidelines yang Komprehensif

Cara Merancang Brand Guidelines yang Komprehensif

Gubuku –

Pernah nggak sih lu ngeliat satu brand yang di Instagram kelihatannya estetik dan classy banget, tapi begitu bikin poster acara atau konten TikTok, visualnya malah kek desain flyer toko kelontong? Vibe-nya langsung hancur, kan?

Nah, ketidakcocokan itu biasanya terjadi karena satu hal: mereka nggak punya Brand Guidelines.

Di dunia bisnis dan content creation yang super cepat ini, punya logo keren aja nggak cukup. Lu butuh panduan “kitab suci” biar karakter brand lu tetap konsisten di mana pun. Yuk, kita bedah seni merancang brand guidelines yang komprehensif tanpa bikin pusing!

Apa Sih Sebenarnya Brand Guidelines Itu?

Singkatnya, Brand Guidelines (atau sering disebut brand style guide) adalah buku panduan resmi yang mengatur gimana cara brand lu tampil di depan publik.

Bayangin brand guidelines ini kayak rules/aturan main karakter lu pas main game. Aturan ini ngatur dari ujung rambut sampai ujung kaki:

  • Gaya bahasa lu pas nyapa audiens (Voice & Tone)

  • Warna baju khas lu (Color Palette)

  • Tulisan yang lu pakai (Typography)

  • Sampai bentuk logo yang boleh dan nggak boleh diacak-acak.

Kenapa Penting Buat Gen Z?

Gen Z itu paling peka sama yang namanya authenticity dan aesthetic. Sekali brand lu kelihatan konsisten dan punya identitas yang jelas, mereka bakal lebih gampang percaya dan sreg buat beli atau follow.

5 Elemen Wajib dalam Brand Guidelines yang Komprehensif

Bikin brand guidelines itu ada seninya. Jangan cuma bikin yang bringsut (membosankan) berisi aturan kaku. Pastikan 5 elemen inti ini ada di dalam “kitab” brand lu:

1. Brand Identity & Story (Jiwa dari Brand Lu)

Sebelum ngomongin visual, lu harus jelas dulu sama siapa diri brand lu.

  • Vision & Mission: Lu mau bawa brand ini ke mana?

  • Brand Values: Nilai apa yang lu pegang? (Misal: eco-friendly, bold, inclusive).

  • Target Audience: Siapa yang mau lu ajak ngobrol?

Baca Juga  PayPal vs Payoneer untuk Microstocker

2. Logo Rules (Biar Logo Nggak “Tersiksa”)

Logo itu wajah utama. Di bagian ini, lu harus kasih aturan jelas:

  • Primary & Secondary Logo: Logo utama dan alternatifnya (misal versi horizontal vs ikon).

  • Clear Space: Jarak aman di sekitar logo biar nggak “kekesetan” sama elemen lain.

  • Do’s & Don’ts: Kasih contoh logo lu kalau diubah warnanya jadi aneh, digepengkan, atau ditaruh di background yang nabrak. Spill yang mana yang BISA dan NGGAK BISA dilakukan!

3. Color Palette (Mainan Warna yang Estetik)

Warna itu bikin emosi! Tentukan warna utama (primary) dan warna pendukung (secondary).

  • Jangan lupa cantumkan kode warna lengkap: HEX Code (buat digital), CMYK (buat cetak), dan RGB.

  • Tips: Bikin kombinasi warna yang kontrasnya pas dan ramah di mata.

4. Typography (Gaya Font yang Bikin Nyaman BACA)

Font pilihan lu menentukan mood. Pilih maksimal 2–3 jenis font:

  • Primary Font: Buat heading atau judul yang mencolok.

  • Secondary Font: Buat body text yang nyaman dibaca berparagraf-paragraf.

  • Tentukan juga hierarchy-nya (ukuran font buat Judul Utama, Sub-judul, dan Isian).

5. Brand Voice & Tone (Cara Lu Ngobrol)

Apakah brand lu tipikal bestie yang suka pakai bahasa gaul? Atau profesional ala konsultan keuangan?

  • Tuliskan kata kunci gaya bahasa lu (Misal: Casual, Witty, Empathetic).

  • Buat daftar contoh kalimat: “Katakan Ini, Jangan Katakan Itu”.

Cara Merancang Brand Guidelines yang Gampang Diikuti (Step-by-Step)

Biar brand guidelines lu nggak cuma jadi dokumen mangkrak di Google Drive, gini cara bikinnya:

[ Kumpulkan Inspirasi & Moodboard ]
                 ↓
   [ Tentukan Core Identity ]
                 ↓
 [ Eksperimen Visual (Logo, Warna, Font) ]
                 ↓
 [ Susun Dokumen yang Visual & Rapi ]
                 ↓
  [ Uji Coba ke Tim & Minta Feedback ]
  1. Riset & Bikin Moodboard: Kumpulin referensi visual di Pinterest atau Arena yang menggambarkan vibe brand lu.

  2. Dokumentasikan Semuanya: Jangan cuma disimpan di kepala. Ketik dan tata dengan rapi.

  3. Bikin yang Visual, Jangan Cuma Teks: Karena ini panduan desain, bikin guidelines-nya sendiri dengan tampilan yang ciamik! Pakai Canva, Figma, atau Adobe Illustrator.

  4. Bikin Mudah Diakses: Simpan format PDF di cloud biar semua tim (desainer, copywriter, social media specialist) bisa akses kapan aja.

Baca Juga  Design Challenge (Seperti Inktober/36 Days of Type) Skill Melesat

Penulis : Adellia SMK SUDJ