Gubuku –
1. Bikin Konten Jadi Gak “Relatable” dan Ketinggalan Tren
Anak muda zaman sekarang (khususnya Gen Z) benci banget sama hal-hal yang kerasa terlalu “korporat” atau dibuat-buat. Tren di TikTok atau Instagram itu geraknya secepat kilat. Hari ini viral meme A, besok udah ganti tren B.
Kalau brand guidelines lo terlalu kaku:
-
Proses persetujuan (approval) jadi ribet dan memakan waktu lama.
-
Tim kreatif gak bisa bebas beradaptasi sama jokes atau tren visual yang lagi hype.
-
Hasilnya? Pas konten lo rilis, trennya udah basi. Boring!
2. Membunuh Jiwa “Problem Solving” Tim Kreatif
Desainer dan content creator itu direkrut karena mereka punya sense of art dan kemampuan memecahkan masalah secara visual. Kalau semua hal dari A sampai Z udah diatur ketat tanpa celah—mulai dari posisi logo yang gak boleh digeser 1 milimeter pun sampai pilihan kata yang itu-itu aja—mereka cuma bakal merasa jadi “robot pembuat gambar”.
Ketika ruang eksplorasi ditutup rapat, tim kreatif bakal kehilangan motivasi buat ngasih ide-ide out of the box. Mereka bakal milih main aman daripada ambil risiko yang berujung revisi berjilid-jilid.
3. Brand Jadi Kelihatan Kaku dan Monoton di Mata Audiens
Coba deh perhatiin brand-brand besar yang disukai Gen Z sekarang. Kebanyakan dari mereka punya kepribadian yang luwes, berani out-of-the-box, bahkan gak ragu buat bercanda di kolom komentar.
Konsistensi itu penting, tapi konsistensi gak sama dengan kebosanan. Kalau visual dan bahasa yang lo lempar ke publik bentuknya selalu sama persis selama bertahun-tahun tanpa ada variasi, audiens bakal mengalami visual fatigue alias bosan ngelihatnya.
Bedanya Brand Guidelines Kaku vs Flexible Brand Guidelines
Biar lebih jelas, coba cek perbandingan gaya guidelines di bawah ini:
| Elemen | Brand Guidelines Kaku ❌ | Flexible Brand System (Guardrails) ✅ |
| Sifat Aturan | Strict (Harus dituruti 100% tanpa pengecualian) | Flexible (Ada aturan dasar, tapi ada ruang eksplorasi) |
| Tone of Voice | Kaku, formal, gak boleh pakai kata gaul/tren | Menyesuaikan platform (di LinkedIn profesional, di TikTok santai) |
| Penggunaan Warna | Cuma boleh pakai 2 warna utama | Ada warna utama + palet warna sekunder buat eksperimen |
| Respon Tren | Lambat karena butuh banyak approval | Cepat, lincah, dan adaptif (agile) |
Solusi: Buat “Guardrails”, Bukan “Barikade”!
Terus, apakah brand guidelines harus dihapus? Ya enggak gitu juga, bestie! Solusinya adalah mengubah konsep guidelines menjadi Guardrails (pembatas jalan).
Ibarat main perahu arung jeram, guardrails cuma bertugas nahan biar perahu gak nabrak karang atau hanyut terlalu jauh. Selama tim lo masih mengayuh di dalam aliran sungai yang benar, biarkan mereka berkreasi dengan gaya dayung mereka sendiri!
-
Tentukan mana yang NON-NEGOTIABLE: Misalnya logo utama, value perusahaan, dan batasan etika.
-
Beri ruang eksperimen (FLEXIBLE): Bebaskan pilihan elemen pendukung, gaya headline, hingga bentuk format konten sesuai media sosial yang dipakai.
penulis : nur aliza smk setih setio 2




Leave a Reply