Gubuku – Pernah gak sih lo lagi rapat bareng tim pemasaran, terus semua orang punya pandangan beda-beda soal cara narik konsumen? Yang satu fokus ke iklan TikTok, yang satu pengen main email marketing, eh yang satu lagi malah sibuk bahas diskon di marketplace. Hasilnya? Strategi promosi jadi berantakan karena gak ada peta yang jelas!
Nah, di sinilah Customer Journey Map (CJM) berperan sebagai pahlawan penyelamat.
Sederhananya, Customer Journey Map adalah peta visual yang menggambarkan seluruh perjalanan calon pembeli—mulai dari mereka pertama kali tahu brand lo (awareness), kepikiran buat beli (consideration), sampai akhirnya beneran checkout dan jadi pelanggan setia (loyalty).
Biar tim pemasaran lo gak makin pusing dan bisa langsung eksekusi strategi dengan lancar, simak cara bikin Customer Journey Map visual yang simpel dan gampang dipahami di bawah ini!
1. Tentukan “User Persona” Terlebih Dahulu
Sebelum bikin peta, lo harus tahu dulu siapa “penjelajah”-nya. Jangan bikin peta buat umum, tapi fokus ke satu karakter pembeli ideal atau User Persona.
-
Siapa nama fiktifnya? (Contoh: Sisca, Mahasiswi Gen Z yang Hobi Ngopi)
-
Apa masalah utamanya? (Gak punya waktu buat bikin kopi sendiri pas kuliah pagi)
-
Apa tujuannya? (Ngejar kopi praktis, enak, tapi harganya tetep ramah kantong)
Gagasan visual bakal jauh lebih tajam kalau lo membayangkan satu karakter yang spesifik!
2. Petakan 5 Tahapan Utama Perjalanan Konsumen
Gunakan struktur horizontal untuk membagi perjalanan konsumen ke dalam 5 tahap dasar ini:
-
Awareness (Tahu): Pembeli baru pertama kali ngelihat produk lo (misal: lewat reels Instagram atau FYP TikTok).
-
Consideration (Mikir): Pembeli mulai bandingin harga, baca review di Google, atau nanya ke temen.
-
Decision / Purchase (Beli): Momen pembeli melakukan transaksi (lewat website, toko fisik, atau e-commerce).
-
Retention (Pakai): Pengalaman pembeli saat menggunakan produk lo.
-
Advocacy (Setia): Pembeli yang puas lalu bikin konten unboxing atau merekomendasikan ke orang lain.
3. Masukkan 4 Elemen Visual Penting
Agar peta lo gak cuma berisi deretan teks membosankan yang bikin tim pemasaran skip, gunakan elemen visual untuk 4 poin wajib ini di setiap tahapan:
-
Touchpoints (Titik Interaksi): Di mana konsumen berinteraksi sama brand lo? (Ikon HP untuk medsos, ikon toko untuk offline).
-
Customer Actions: Apa yang bener-bener dilakukan konsumen pada tahap itu?
-
Emotions (Tingkat Emosi): Gunakan ikon emoticon atau garis grafik naik-turun. Apakah mereka bingung? Senang? Atau frustrasi karena checkout lambat?
-
Pain Points (Masalah): Hambatan apa yang bikin mereka batal beli? (Misal: Ongkir mahal, tombol beli susah dicari).
4. Gunakan Kode Warna (Color Coding) biar Gampang Dibaca
Kunci visual yang ramah otak Gen Z adalah color coding. Jangan pakai warna polosan!
| Elemen Map | Rekomendasi Warna Visual | Fungsi Visual |
| Touchpoint Digital | Biru Muda / Ungu | Menandai jalur online (Medsos, Web) |
| Touchpoint Physical | Hijau / Oranye | Menandai jalur offline (Toko, Event) |
| Pain Points (Masalah) | Merah / Merah Muda | Menandai area kritis yang butuh perbaikan |
| Opportunities (Solusi) | Kuning / Hijau Cerah | Menandai ide strategi baru tim pemasaran |
5. Manfaatkan Tools Visual Gratisan
Gak perlu bisa Adobe Photoshop atau Illustrator cuma buat bikin CJM. Zaman sekarang udah banyak tools kolaborasi visual yang punya template Customer Journey Map gratisan:
-
Figma / FigJam: Cocok banget buat kolaborasi real-time bareng tim lewat sticky notes digital.
-
Miro / Mural: Punya banyak pilihan template visual CJM siap pakai yang aesthetic.
-
Canva: Pilihan paling praktis buat lo yang pengen bikin grafik bersih dan cepat.
6. Cari “Momen Aha!” dan Fokus pada Solusi
Tujuan utama bikin peta ini bukan cuma buat pajangan di ruang rapat, tapi buat nyari Opportunity (Peluang).
Setelah petanya jadi, ajak tim pemasaran buat ngelihat bagian garis emosi yang paling merah atau turun. Misal: “Wah, ternyata konsumen sering frustrasi di tahap Consideration karena deskripsi produk kita kurang jelas.”
Dari situ, tim pemasaran bisa langsung bikin solusi visual, seperti menambahkan video tutorial singkat atau frequently asked questions (FAQ) di bio Instagram.
Penulis kiki dari smkn 9 bungo




Leave a Reply