Gubuku – Pernah gak sih lo lagi asyik nge-desain buat klien luar negeri, terus kepikiran mau masukin motif batik, ukiran Toraja, atau elemen kebudayaan lokal lainnya biar kelihatan “unik dan eksotis”?
Niatnya sih keren, pengen ngenalin budaya ke kancah global. Tapi awas, bestie! Kalau cara pakainya salah, lo bisa kena tuduhan Cultural Appropriation alias pencaplokan budaya. Taruhannya gak main-main: karya lo diboikot, akun dibanjiri kritik pedas netizen, sampai reputasi lo sebagai desainer bisa hancur seketika di internet.
Lantas, gimana caranya biar kita tetap bisa merayakan keindahan budaya lewat desain tanpa terjerat masalah ini? Yuk, pahami panduan dan trik lengkapnya di bawah ini!
Bedakan Dulu: Cultural Appropriation vs Cultural Appreciation
Sebelum mulai corat-coret di Figma atau Illustrator, lo wajib paham dulu bedanya dua konsep ini. Jangan sampai ketukar, ya!
-
Cultural Appropriation (Pencaplokan Budaya): Mengambil, meniru, atau memakai elemen budaya milik kelompok tertentu (terutama yang secara historis termarjinalkan) tanpa izin, tanpa pemahaman makna, atau hanya dimanfaatkan demi keuntungan komersial semata. Hasilnya? Budaya tersebut jadi dangkal atau bahkan salah kaprah.
-
Cultural Appreciation (Apresiasi Budaya): Menggunakan elemen budaya dengan rasa hormat, memahami latar belakang dan makna di baliknya, serta memberikan porsi penghargaan atau kredit yang layak kepada masyarakat pemilik budaya tersebut.
5 Langkah Aman Pakai Elemen Tradisional untuk Projek Internasional
Biar karya lo tergolong sebagai Cultural Appreciation yang dipuji-puji dan bukan malah kena cancel, terapkan langkah-langkah ini:
1. Do Your Research! (Jangan Cuma Modal “Kelihatan Keren”)
Elemen tradisional itu bukan sekadar hiasan visual sembarangan. Banyak motif atau warna tradisional yang punya nilai sakral, cerita spiritual, atau cuma boleh dipakai untuk upacara kematian/keagamaan tertentu.
-
Do: Cari tahu asal-usul, fungsi asli, dan simbolisme dari motif yang mau lo pakai.
-
Don’t: Main asal tempel motif sakral untuk produk yang gak relevan (misalnya: menempelkan motif doa sakral di desain kemasan kaos kaki atau minuman beralkohol).
2. Libatkan Komunitas Lokal atau Kreator Aslinya
Kalau lo mengerjakan proyek internasional berskala besar, kolaborasi adalah jalan ninja terbaik.
-
Cobalah ajak desainer, seniman, atau tetua dari komunitas pemilik budaya tersebut untuk berdiskusi.
-
Minta masukan (feedback) dari mereka: “Apakah penggunaan motif ini sudah sopan?” atau “Apakah ada makna yang terdistorsi?”
3. Beri Kredit dan Ceritakan Kisah di Baliknya
Klien luar negeri dan audiens internasional zaman sekarang sangat menyukai cerita (storytelling). Jangan sembunyikan identitas budaya yang lo pakai!
-
Cantumkan attribution atau penjelasan singkat di bagian credit, bab case study portofolio, atau deskripsi produk.
-
Jelaskan dari mana elemen tersebut berasal dan apa makna indah di baliknya. Ini bakal bikin nilai jual karya lo makin mahal dan berkelas!
4. Modifikasi dengan Etika (Respectful Modernization)
Boleh gak sih menggabungkan motif tradisional dengan gaya desain modern kayak minimalism atau cyberpunk? Boleh banget! Tapi ingat batasan ini:
-
Pastikan esensi dasar atau bentuk utama dari elemen tradisional itu tidak hilang sampai tak mengenali bentuk aslinya.
-
Jangan pernah mengubah simbol-simbol yang memiliki arti penting menjadi sesuatu yang bernada ejekan atau stereotip negatif.
5. Pastikan Ada Follback Keuntungan untuk Komunitas (Give Back)
Jika proyek internasional ini menghasilkan keuntungan finansial yang besar bagi lo atau klien, alangkah baiknya jika ada dampak positif yang kembali ke komunitas asal budaya tersebut.
-
Bisa berupa kampanye kesadaran (awareness campaign), donasi sebagian keuntungan, atau membuka lapangan kerja bagi pengrajin lokal.
Ringkasan Cepat: Checklist Boleh vs Jangan
Biar makin gampang diingat pas lagi nge-desain, simpan checklist berikut:
| Boleh Dikerjakan (DO) ✅ | Wajib Dihindari (DON’T) ❌ |
| Riset mendalam tentang arti motif & warna | Main tempel motif tanpa tahu artinya |
| Memberikan kredit eksplisit ke budaya asal | Mengklaim elemen tradisional sebagai ciptaan pribadi |
| Mengajak kolaborasi seniman lokal | Menggunakan elemen sakral untuk barang yang tidak pantas |
| Menjadikan budaya sebagai inspirasi yang dihormati | Menjadikan budaya sebagai kostum atau bahan lelucon |
Penulis kiki dari smkn 9 bungo




Leave a Reply