Gubuku – Pernah gak sih kamu ngeliat akun medsos brand besar yang mendadak pake bahasa gaul, tapi bukannya keliatan keren malah terasa cringe dan forced banget? Rasanya kayak liat bapak-bapak umur 50 tahun maksain pake baju streetwear terus bilang, “Gokil abis, bro!”
Nah, di situlah pentingnya memahami Brand Voice.
Di dunia digital yang makin rame dan bising ini, brand kamu gak cuma butuh logo yang estetik atau jualan produk yang bagus. Brand kamu butuh kepribadian. Mengapa brand voice harus selaras dengan karakter asli brand kamu? Yuk, kita bedah bareng-bareng tanpa pusing!
1. Apa Sih Sebenarnya Brand Voice Itu?
Gampangnya gini: Brand Voice adalah kepribadian brand kamu saat berkomunikasi dengan audiens.
Sama kayak manusia, setiap brand punya gaya bicaranya sendiri:
-
Ada yang sifatnya Friendly & Humoratis (kayak customer service Grab/Gojek di Twitter/X).
-
Ada yang Formal & Profesional (kayak bank atau firma hukum).
-
Ada yang Bold & Sassy (kayak Duolingo di TikTok yang suka ‘mengancam’ user-nya kalau gak belajar).
Brand voice ini bakal kelihatan di mana-mana: dari caption Instagram, balasan di kolom komentar, teks iklan, sampai balasan chat admin WhatsApp.
2. Kenapa Brand Voice Harus ‘Klop’ Sama Karakter?
Banyak brand pemula yang bikin kesalahan fatal: ikut-ikutan tren tanpa mikirin karakter asli mereka. Hari ini viral pake bahasa jaksel, besok pake gaya slang TikTok, lusa balik lagi sok formal. Akibatnya? Audiens jadi bingung!
Ini alasan kenapa konsistensi brand voice itu harga mati:
A. Biar Gak Kena “Bohong Radar” Gen Z
Gen Z itu punya ‘radar’ yang tajam banget buat ngerasain hal-hal yang palsu (inauthentic). Kalau brand kamu jualan produk kesehatan yang serius tapi caption-nya penuh meme gajelas cuma demi viral, audiens bukannya percaya, malah bakal ngerasa ilfiel (turn off).
B. Bikin Brand Kamu Gampang Diingat (Top of Mind)
Bayangin kalau semua brand ngomongnya sama: “Halo Kak, ada yang bisa dibantu?” Bosen, kan? Tapi kalau brand voice kamu unik dan konsisten, orang bakal langsung ngeh cuma dari cara kamu nulis caption.
Contoh: Kamu pasti bisa membedakan gaya bahasa Duolingo yang playful-chaotic dengan gaya bahasa Apple yang minimalist-premium.
C. Membangun Hubungan Emosional (Bukan Cuma Transaksi)
Orang beli barang bukan cuma karena butuh fungsinya, tapi karena suka sama komunikasinya. Saat brand voice kamu terasa relatable dan sesuai karakter, audiens bakal ngerasa kayak lagi ngobrol sama temen sendiri, bukan sama mesin pencari uang.
3. Gimana Cara Menyelaraskan Brand Voice dengan Karakter?
Bikin brand voice yang pas itu ada seninya! Kamu bisa coba 3 langkah simpel ini:
-
Bayangkan Brand Kamu Sebagai Manusia
Kalau brand kamu berubah jadi orang, dia umur berapa? Hobinya apa? Gimana gaya berpakaiannya? Cara ngobrolnya pake “Aku-Kamu”, “Gue-Lu”, atau “Saya-Bapak/Ibu”?
-
Buat Tiga Kata Kunci Kepribadian
Tentukan 3 kata yang mendeskripsikan brand kamu.
Contoh: Ceria, Edukatif, dan Empatis.
Setiap kali mau bikin konten, pastikan bahasanya mencerminkan 3 kata tersebut!
-
Pahami Audiens Utama Kamu
Gaya bahasa buat Gen Z tentu beda dengan gaya bahasa buat Gen X atau Millennials. Pahami bahasa yang biasa digunakan calon pembeli kamu tanpa harus kehilangan identitas asli brand-mu.
Penulis : Adellia smk sudj




Leave a Reply