Gubuku – Pernah gak sih lo habis selesain proyek branding, terus klien lo dikit-dikit chat: “Kak, kode warna pink-nya berapa ya?” atau “Font yang kemarin dipake buat judul namanya apa ya, lupa euy!”?
Awalnya sih gapapa, tapi kalau ditanya hal yang sama berkali-kali? Beuh, rasanya pengen balat chat-nya pakai stiker nangis!
Nah, biar lo gak perlu bolak-balik ngirimin file besar atau jawab pertanyaan berulang, ada satu “senjata rahasia” yang wajib lo kasih ke klien: Brand Board Satu Halaman.
Selain bikin kerjaan lo kelihatan super profesional, brand board ini ringkas, estetik, dan gampang banget dipahami sama klien. Yuk, intip cara bikinnya di bawah ini!
Apa Sih Brand Board Itu? (Beda Sama Brand Guidelines, Ya!)
Sebelum masuk ke caranya, lo harus paham dulu bedanya. Kalau Brand Guidelines (atau Brand Manual Book) itu versi tebalnya—bisa sampai puluhan halaman lengkap dengan aturan yang detail banget.
Sedangkan Brand Board itu versi cheat sheet alias rangkuman satu halaman. Semua aset visual utama disajikan dalam satu lirikan mata (one-glance reference). Klien tinggal save gambar atau PDF-nya di HP/laptop, terus buka deh tiap kali mau bikin konten!
Elemen Wajib dalam Brand Board Satu Halaman
Biar brand board lo fungsional dan gak asal pajang, pastikan elemen-elemen ini masuk ke dalam layout satu halaman lo:
-
Logo Utama (Primary Logo): Versi logo paling standar dan lengkap.
-
Variasi Logo (Secondary/Alternative Logo & Submark): Versi logo horizontal, vertikal, atau ikon kecil buat profile picture medsos.
-
Palet Warna (Color Palette): Lengkap dengan kode warna (HEX, RGB, dan CMYK) biar warna mereka gak melenceng pas didesain atau dicetak.
-
Tipografi (Typography): Kombinasi font untuk Heading, Sub-heading, dan Body Text.
-
Elemen / Pattern Pendukung: Ilustrasi, pola visual, atau bentuk khas pendukung brand.
-
Moodboard / Photography Direction: 3–4 foto referensi buat ngasih gambaran vibes visual brand tersebut.
Langkah-Langkah Cara Membuat Brand Board
Gak usah ribet, lo bisa bikin ini pakai Adobe Illustrator, Photoshop, Figma, atau bahkan Canva!
1. Tentukan Ukuran Canvas yang Pas
Karena tujuannya buat gampang disimpan dan dilihat, pakai ukuran standar portrait. Ukuran A4 atau rasio 16:9 / 9:16 (sesuai kebutuhan klien) biasanya jadi pilihan paling aman dan rapi.
2. Buat Grid & Layout yang Rapi
Atur susunan dari atas ke bawah berdasarkan hierarki visual:
-
Atas: Header (Nama Brand) & Primary Logo.
-
Tengah: Variasi Logo, Submark, dan Palet Warna.
-
Bawah: Tipografi, Elemen Grafis, dan Moodboard Foto.
Pro Tip: Gunakan white space (ruang kosong) yang cukup di antara tiap seksi biar tampilan brand board lo gak sesak dan tetep kelihatan estetik!
3. Sertakan Kode Warna yang Jelas
Jangan cuma pajang lingkaran warna doang! Tuliskan kode HEX (contoh: #FF5733) tepat di bawah atau di samping setiap bulatan warna. Ini bagian paling krusial yang paling sering dicari sama klien.
4. Buat Hierarki Teks untuk Tipografi
Tampilkan nama font langsung dengan gaya penulisan aslinya. Misalnya:
-
Heading: Playfair Display (Tampilkan dalam bentuk Alphabet A-Z)
-
Body: Inter Regular (Tampilkan contoh kalimat pendek)
Kenapa Klien Bakal Suka Banget Sama Brand Board Ini?
-
Praktis & Gak Bikin Pusing: Klien gak perlu scroll PDF 30 halaman cuma buat nyari kode warna.
-
Serbaguna: Gampang dikirim ke tim internal mereka (misal: tim Social Media Admin atau Meta Ads).
-
Ngasih Kesan Profesional: Proyek lo kelihatan matang dan punya nilai jual (value) tinggi.




Leave a Reply