Gubuku – Sebagai anak desain atau orang yang sering kerja bareng tim kreatif, lo pasti pernah ada di posisi ini: ngelihat hasil desain teman satu tim atau junior, tapi rasanya… hmmm, ada yang “kurang sreg” atau bahkan jauh dari brief.
Masalahnya, ngasih masukan ke karya seni itu gampang-gampang susah. Kalau caranya salah, yang tadinya niat ngasih kritik membangun (constructive feedback) malah dikira ngajak ribut atau bikin mental si desainer drop.
Biar lo gak disebelin satu tim dan kritik lo tetap diterima secara profesional tanpa menyinggung perasaan, yuk cobain beberapa taktik Design Critique yang halus dan effective berikut ini!
1. Gunakan Formula “Sandwich Technique” (Pujian – Masukan – Pujian)
Jangan langsung to the point membantai desain orang lain dengan kalimat: “Ini jelek banget warnanya, ganti!” (Auto bikin gondok!).
Cobain metode klasik nan ampuh ini:
-
Pujian (Top Bun): Awali dengan apresiasi pada hal positif yang udah bagus.
-
Contoh: “Keren banget nih konsep visualnya, pemelihan gambar dasarnya udah dapet banget!”
-
-
Masukan (The Meat): Sampaikan poin yang perlu diperbaiki secara objektif.
-
Pujian/Dukungan (Bottom Bun): Tutup dengan kalimat positif atau optimis.
-
Contoh: “Kalau font-nya diganti sikit, pasti hasilnya makin standout dan slay!”
-
2. Fokus pada “Masalah” & “Tujuan”, Bukan Selera Pribadi
Inget, design critique itu beda sama personal taste. Jangan kritik desain cuma karena lo pribadi gak suka warna hijau atau gak suka font Serif.
Selalu kembalikan masukan lo ke brief dan target audiens:
-
❌ Salah: “Gue gak suka warna biru ini, ganti merah aja.”
-
✅ Benar: “Karena target audiens kita Gen Z yang energetic, warna biru muda ini menurut lo udah cukup mewakili vibes-nya belum ya? Gimana kalau coba warna yang sedikit lebih vibrant?”
3. Pakai Kalimat Tanya, Jangan Langsung Mengatur
Bukannya ngasih instruksi mutlak kayak atasan galak, cobain pakai pertanyaan reflektif. Cara ini bikin si desainer merasa diajak berdiskusi, bukan didikte.
Ganti kalimat perintah dengan kalimat seperti:
-
“Kira-kira apa pertimbangan lo milih layout di sebelah kiri ini?”
-
“Menurut lo, kalau ruang kosong (white space)-nya dilebarin sikit, pembaca bakal lebih fokus ke CTA-nya gak ya?”
Dengan begini, si desainer punya kesempatan buat ngejelasin reasoning di balik karyanya tanpa merasa dipojokkan.
4. Kritik Karya Desainnya, Bukan Pengenalan Diri Orang Lain!
Ini poin paling krusial! Pisahkan antara karya dan individu desainer. Jangan sampai masukan lo terkesan menyerang kemampuan atau kepribadian mereka.
-
❌ Menyerang Individu: “Lo malas banget sih, masa urutan layout-nya berantakan gini?”
-
✅ Fokus ke Karya: “Layout bagian bawah ini kelihatannya agak crowded, bikin alur bacanya sedikit membingungkan.”
5. Berikan Contoh atau Referensi Visual (Bukan Cuma Katanya)
Istilah dalam dunia desain itu sering kali abstrak. Kata “kurang estetik” atau “kurang jreng” bagi lo, belum tentu sama artinya bagi orang lain.
Biar gak ada miscommunication:




Leave a Reply