Gubuku – Kalau kamu pernah tidak sengaja nemu video di YouTube dengan latar belakang patung Yunani klasik, pemandangan matahari terbenam warna merah muda, komputer Windows 95, plus musik berenut lambat yang kedengaran kayak kaset rusak… congrats, kamu baru saja masuk ke dunia Vaporwave.
Meskipun puncak kepopulerannya di internet sudah lewat beberapa tahun lalu, anehnya vaporwave aesthetic gak pernah benar-benar punah. Subkultur visual dan musik ini tetap punya tempat spesial (niche) yang loyal banget, terutama di kalangan Gen Z.
Padahal tren internet biasanya cepat basi, tapi kenapa visual yang satu ini tetap bertahan? Yuk, kita bedah alasannya!
1. Nostalgia Trigger untuk Masa Lalu yang Gak Pernah Dikunjungi
Salah satu daya tarik utama vaporwave adalah sensasi anemoia—alias rasa kangen mendalam pada suatu era yang bahkan belum pernah kita alami secara langsung.
Buat Gen Z, estetika era late 80-an hingga era 90-an (seperti grafik komputer awal, kaset VHS, dan arcade game) terasa unik, misterius, dan estetik. Vaporwave mengemas ulang elemen masa lalu ini menjadi sesuatu yang terasa modern sekaligus dreamy.
2. Warna-Warna Pastel dan Neon yang Pleasing di Mata
Secara visual, vaporwave sangat gampang diikutsertakan di feed media sosial karena palet warnanya yang khas:
-
Pink Magenta dan Cyan
-
Purple Violet
-
Soft Pastel Peach
Perpaduan warna neon yang ditenangkan oleh warna pastel ini menciptakan efek visual yang tenang, santai, dan sangat cinematic. Cocok banget buat kamu yang suka estetika lo-fi atau visual yang gak bikin mata lelah saat malam hari.
3. Pelarian dari Rutinitas yang Serba Cepat (Escapism)
Kehidupan modern sekarang serba serba cepat, serba high-definition, dan kadang bikin stres. Vaporwave hadir menawarkan pelarian (escapism).
Musik vaporwave yang bertempo lambat dipadu dengan visual patung Yunani, pemandangan pantai digital, dan glitch effect menciptakan suasana yang surreal atau seperti di dalam mimpi. Kombinasi ini efektif banget bikin pikiran rileks setelah seharian scrolling atau belajar.
4. Sindiran Halus terhadap Budaya Konsumerisme
Gak cuma sekadar visual keren, vaporwave sebenarnya lahir sebagai bentuk satir atau kritikan terhadap capitalism dan consumerism berlebihan di era 80-90an.
Penggunaan logo brand jadul, musik iklan lama yang diperlambat, dan elemen pusat perbelanjaan (mall culture) kosong adalah bentuk “ejekan” artistik. Pesan tersirat ini sangat relatable buat Gen Z yang makin kritis terhadap isu-isu sosial dan lingkungan akibat industri modern.
Penulis kiki dari smkn 9 bungo



Leave a Reply