Gubuku – Pernah gak sih kamu membuka aplikasi belajar online (EdTech), tapi baru lihat halamannya sebentar aja mata langsung kerasa capek dan pusing? Teksnya numpuk di mana-mana, gak jelas mana instruksi penting mana penjelasan tambahan. Hasilnya? Mending close aplikasinya terus lanjut scrolling TikTok.
Eits, itu bukan salah kamu yang gampang hilang fokus! Dalam dunia UI/UX design, masalah tersebut biasanya terjadi karena satu hal: tata letak teksnya gak punya Typography Hierarchy yang jelas.
Buat kamu yang penasaran gimana cara aplikasi edukasi bikin penggunanya betah belajar berjam-jam tanpa pusing, yuk kita dibongkar rahasianya!
Apa Sih Typography Hierarchy Itu?
Secara sederhana, Typography Hierarchy (hirarki tipografi) adalah sistem penyusunan teks berdasarkan tingkat kepentingannya.
Melalui permainan ukuran font, ketebalan (weight), warna, dan jarak, desainer memandu mata kamu untuk membaca informasi secara berurutan—mulai dari yang paling krusial sampai ke detail pelengkap.
Bayangkan hirarki ini seperti daftar lagu (playlist). Ada track utama yang jadi headliner, ada juga lagu pendukung yang bikin suasana makin pas.
Kenapa Hirarki Tipografi Penting Banget di Aplikasi EdTech?
Gen Z itu tipe pembaca cepat (skimmer). Kalau informasi di aplikasi belajar gak tertata rapi dalam hitungan detik, fokus bakal langsung buyar. Nah, ini alasan kenapa typography hierarchy jadi kunci utama:
-
Navigasi Mulus: Kamu bisa langsung tahu mana judul materi, tombol kuis, atau instruksi tugas tanpa perlu mikir keras.
-
Mengurangi Cognitive Load: Otak gak gampang lelah karena informasi masuk secara bertahap dan terstruktur.
-
Bikin Semangat Belajar: Tampilan teks yang bersih, estetik, dan rapi bikin pengalaman belajar kerasa makin seru dan modern.
3 Tingkatan Utama Typography Hierarchy yang Wajib Ada
Di dalam aplikasi EdTech, teks umumnya dibagi menjadi tiga tingkatan hirarki:
1. Primary Level (Header / Judul Utama)
Ini adalah elemen visual paling mencolok. Biasanya menggunakan ukuran font paling besar dan tebal (bold).
-
Contoh di Aplikasi: Judul modul belajar (misal: “Bab 1: Dasar-Dasar Desain Grafis”) atau skor kuis kamu.
2. Secondary Level (Sub-header / Sub-judul)
Ukurannya sedikit lebih kecil dari header, tapi tetap menonjol dibanding teks biasa.
-
Fungsi: Mengelompokkan materi menjadi bagian-bagian kecil yang mudah dipahami.
-
Contoh di Aplikasi: Nama sub-bab, petunjuk langkah kuis, atau kategori pelajaran.
3. Tertiary Level (Body Text / Teks Penjelas)
Merupakan teks utama yang berisi penjelasan detail. Ukurannya standar dan paling nyaman dibaca dalam durasi lama.
-
Fungsi: Menyampaikan isi materi secara rinci.
-
Contoh di Aplikasi: Teks bacaan materi, pilihan jawaban kuis, atau penjelasan soal.
Elemen Pendukung Kunci Biar Teks Tetap Estetik & Ringan
Bukan cuma soal ukuran font, desainer EdTech jempolan juga memanipulasi elemen-elemen ini:
| Elemen Tipografi | Cara Kerja | Dampak pada Pembaca |
| Font Weight (Ketebalan) | Membedakan kata kunci memakai variasi Bold, Medium, atau Regular. | Mata langsung menangkap poin penting tanpa membaca seluruh kalimat. |
| Color & Contrast (Warna) | Menggunakan warna kontras untuk tombol aksi dan warna sedikit redup untuk catatan kaki. | Pembaca tahu mana informasi utama dan mana yang hanya teks pelengkap. |
| Line Height & Spacing (Jarak) | Memberi ruang napas antar-baris teks (white space). | Paragraf gak kelihatan “sesak” dan mata gak gampang lelah. |
Pro Tip: Aplikasi EdTech kekinian rata-rata menggunakan jenis font Sans-Serif (seperti Inter, Roboto, atau Poppins) karena bentuk hurufnya yang bersih, bersih dari ornamen rumit, dan sangat mudah dibaca di layar HP!
penulis;bungasmksudj



Leave a Reply