Gubuku – 1. Warna yang Dinamis & Modern
Lupakan warna-warna kaku. Kombinasikan warna khas sains (seperti biru neon, electric green, atau deep space black) dengan warna-warna hangat yang ramah. Penggunaan warna juga bisa dipakai buat membedakan zona pameran, misalnya warna hijau untuk area Biology & Earth, dan warna oranye untuk area Robotics & AI.
2. Tipografi yang Futuristik tapi Tetap Dibaca
Pilih font berjenis Sans-Serif yang bersih, modern, dan mudah dibaca dari jarak jauh. Hindari font yang terlalu rumit karena fungsi utama tulisan di museum adalah menyampaikan informasi ilmiah secara cepat.
3. Piktogram & Iconography yang Jelas
Gunakan simbol-simbol visual yang simpel untuk penunjuk arah. Piktogram yang dirancang dengan baik bikin orang dari berbagai rentang usia—bahkan turis asing—bisa langsung paham arah menuju toilet, kantin, atau studio IMAX tanpa perlu banyak baca teks.
4. Layout & Digital-Interactive Graphic
Gabungkan grafis cetak dengan elemen digital, seperti layar sentuh interaktif, projection mapping, atau Augmented Reality (AR). Visual yang bergerak bakal jauh lebih menarik perhatian dibanding teks diam di dinding.
Tahapan Merancang Visual System dari Awal
Biar proses perancangannya teratur, ikuti alur kerja berikut:
| Tahapan | Langkah Kerja | Fokus Utama |
| 1. Riset & Konsep | Menentukan mood dan tema besar museum. | Memahami cara berpikir target audiens (anak sekolah, mahasiswa, umum). |
| 2. Pembuatan Aset Visual | Merancang logo, memilih font, dan menentukan sistem warna. | Konsistensi fleksibilitas aset agar bisa dipakai di media cetak maupun digital. |
| 3. Penerapan pada Ruang (Wayfinding) | Menyusun tata letak signage, denah museum, dan grafis dinding. | Kepatuhan pada aksesibilitas dan kenyamanan alur jalan pengunjung. |
| 4. Penyusunan Graphic Standard Manual (GSM) | Membuat buku panduan resmi penggunaan visual museum. | Menjaga agar desain tidak melenceng di masa depan saat ada pameran baru. |
Penulis : Adellia smk sudj



Leave a Reply