Mengapa Claymation Style Makin Tren di Desain UI?

Mengapa Claymation Style Makin Tren di Desain UI?

Gubuku-Pernah gak sih kamu lagi scrolling aplikasi atau buka website, terus nemu tombol, maskot, atau ilustrasi yang bentuknya kelihatan kenyal kayak terbuat dari lilin mainan Plastisin? Bawaannya pengin melipat atau memencet layar, kan?

Nah, gaya visual yang mirip animasi tanah liat itu namanya Claymation Style (atau sering disebut Claymorphism).

Di tengah gempuran tampilan digital yang makin minimalis dan serba “datar” (flat design), gaya visual ala Play-Doh ini justru mendadak menjamur dan populer banget di kalangan UI/UX designer. Lantas, kenapa sih gaya visual yang agak jadul ini malah jadi tren besar dan disukai Gen Z? Yuk, kita bahas satu per satu!

1. Bosen Sama Tampilan Flat Design yang “Dingin”

Beberapa tahun belakangan, dunia digital didominasi sama desain yang serba rapi, tipis, dan clean (flat design). Bagus sih, tapi lama-lama kelihatan membosankan dan kurang bernyawa.

Claymation style hadir membawa angin segar! Gaya ini ngasih dimensi 3D yang ramah, lembut, dan punya bayangan (soft shadow) yang tebal. Tampilan aplikasi yang tadinya kaku dan serba formal langsung berubah jadi kelihatannya lebih hidup, hangat, dan friendly.

2. Sentuhan Nostalgia Generasi 90-an dan 2000-an

Buat Gen Z, visual claymation itu ngelempar kita balik ke masa kecil. Mengingatkan kita sama kartun-kartun legendaris kayak Shaun the Sheep, Pingu, atau Wallace & Gromit.

Gaya visual ini berhasil memicu sentuhan nostalgia yang emosional. Dalam dunia marketing dan desain modern, rasa nostalgia ini efektif banget buat bikin pengguna merasa nyaman, bernostalgia, dan betah lama-lama di dalam aplikasi.

3. Visualnya Unik dan Sangat Instagrammable

Gen Z itu visual-oriented banget. Desain yang monoton bakal langsung di-swipe gitu aja.

Baca Juga  Seni Merancang Tote Bag Graphic yang Laris

Claymation style punya karakteristik visual yang sangat menonjol:

  • Bentuk yang organik: Sudut-sudutnya membulat (rounded corners) dan gak simetris kaku.

  • Warna pastel atau cerah: Warna-warnanya mencolok tapi tetap empuk di mata.

  • Tekstur lembut: Bikin elemen seperti tombol atau card kelihatan kenyal (tactile).

Kombinasi ini bikin tampilan aplikasi jadi terlihat estetik, playful, dan beda dari yang lain. Gampang banget menarik perhatian hanya dalam hitungan detik!

4. Bikin Interaksi Aplication Terasa Lebih Nyata (Tactile)

Kelebihan utama claymorphism di desain UI (User Interface) adalah efek kedalaman dimensinya. Karena bentuknya mirip benda nyata yang bisa dipegang, tombol dengan gaya ini kelihatan sangat “enak buat diklik”.

Saat digabungkan dengan efek mikro-interaksi (misalnya tombolnya kelihatan mendam pas ditekan), pengguna dapet kepuasan tersendiri saat navigasi aplikasi. User experience (UX) jadi terasa lebih interaktif dan seru!

Kesimpulan

Tren Claymation Style di desain UI ditenagai oleh keinginan pengguna untuk lepas dari desain digital yang kaku. Perpaduan antara estetika 3D yang kenyal, warna yang estetik, dan rasa nostalgia bikin gaya ini berhasil mencuri perhatian banyak orang, khususnya Gen Z.

Gimana menurut kamu? Kamu lebih suka tampilan aplikasi yang clean dan flat, atau yang penuh elemen “tanah liat” kayak gini?

penuls: asil SMKN 8 Bugno