Gubuku – Kalau lo merhatiin tren belakangan ini, banyak brand raksasa dunia kayak Pepsi, Burger King, Nokia, sampai Motorola mendadak ganti logo dan kemasan mereka. Uniknya, bukannya makin futurisitk, tampilan visual mereka justru balik lagi ke estetika zaman dulu alias desain bergaya retro/vintage.
Fenomena ini bukan sekadar kebetulan atau karena desainer mereka kehabisan ide, guys. Ada alasan psikologis dan strategi bisnis matang di balik tren throwback ini.
Yuk, bongkar alasan kenapa gaya jadul ini malah bikin brand-brand besar makin hype dan relevan di era sekarang!
1. Efek Nostalgia (Anemoia Effect)
Nostalgia itu punya daya tarik emosional yang luar biasa kuat. Menariknya, Gen Z mengalami fenomena yang dinamakan anemoia—rasa rindu terhadap masa lalu yang bahkan belum pernah kita alami secara langsung.
Desain bergaya 80-an, 90-an, hingga estetika Y2K (awal 2000-an) memberikan rasa nyaman, hangat, dan cozy di tengah dunia digital yang makin kompleks dan bikin jenuh. Brand besar memanfaatkan ini buat membangun koneksi emosional yang instan sama audiens.
2. Jenuh dengan Tren Modernism & Minimalis yang “Dingin”
Beberapa tahun belakangan, tren flat design dan korporat minimalis sempat menguasai dunia. Hasilnya? Semua logo brand kelihatan mirip, kaku, dan kehilangan karakter khasnya.
3. Estetika Retro Sangat “Instagrammable” & TikTokable
Gen Z adalah generasi visual. Kita suka sesuatu yang punya estetika unik buat di-pajang di feeds Instagram atau konten TikTok.
Kemasan produk bergaya retro—dengan palet warna hangat, efek garis pop-art, atau nuansa analog—kelihatan jauh lebih estetik pas difoto atau dibuat konten unboxing. Secara gak langsung, brand dapet promosi gratis dari konsumennya sendiri lewat User Generated Content (UGC).
4. Strategi Menggaet Dua Generasi Sekaligus
Pendekatan desain retro adalah jurus win-win solution buat tim pemasaran brand besar:
-
Generasi Millennial & Gen X: Merasa bernostalgia dan teringat masa kecil mereka.
-
Gen Z: Melihat desain tersebut sebagai sesuatu yang trendy, vintage, dan cool.
Satu perubahan desain bisa langsung menyasar dua pasar besar sekaligus tanpa perlu bikin dua kampanye terpisah.
Seni visual itu siklusnya selalu berputar. Langkah brand-brand besar kembali ke desain bergaya retro membuktikan kalau hal-hal yang otentik, kaya rasa, dan punya cerita akan selalu menang di hati konsumen.
Gimana menurut lo? Lo lebih suka tampilan brand yang serba minimalis modern atau yang bergaya retro vintage kayak gini?
penulis:bungasmksudj




Leave a Reply