Hubungan Interior Design dan Environmental Graphic Design

Hubungan Interior Design dan Environmental Graphic Design

Hubungan Interior Design dan Environmental Graphic Design

Gubuku – Pernah gak sih lo masuk ke sebuah toko atau coffee shop, terus dalam hati langsung ngebatin: “Gokil, tempatnya estetik parah! Nyaman banget dan gampang ditemuin apa-apa.” Tapi di sisi lain, lo pasti pernah masuk ke toko yang bikin pusing: ruangannya sempit, bingung cari kasir di mana, dan visualnya tabrakan sana-sini.

Nah, perbedaan bumi dan langit itu terjadi bukan cuma karena faktor hoki, bestie! Ada racikan dua ilmu penting di baliknya: Interior Design dan Environmental Graphic Design (EGD).

Kalau dua elemen ini jalan barengan, toko gak cuma bakal kelihatan estetik buat tempat foto-foto Instagram/TikTok, tapi juga bikin pembeli betah dan ujung-ujungnya auto checkout! Yuk, kita bongkar rahasia hubungan erat di antara keduanya!

1. Apa Bedanya Interior Design vs EGD? (Biar Gak Tertukar)

Sebelum paham hubungan mesra mereka, kita bedah dulu pengertian simpelnya:

  • Interior Design (Desain Interior): Ini soal ruang dan fisik. Fokusnya ke tata letak (layout), pencahayaan, pemilihan furnitur, material lantai, sampai aliran jalan (traffic flow) pengunjung di dalam toko.

  • Environmental Graphic Design (EGD): Ini soal komunikasi visual di dalam ruang. EGD menggabungkan grafis, arsitektur, dan pencahayaan untuk ngasih informasi. Contohnya: papan petunjuk (wayfinding/signage), mural dinding, logo timbul di kasir, sampai kuotasi estetik di sudut toko.

Singkatnya: Interior Design nyiapin “wadah/panggungnya”, sedangkan EGD ngasih “suara dan petunjuknya”.

2. Kenapa Keduanya Wajib “Jadian” dan Gak Boleh Jalan Sendiri?

Bayangin lo datang ke toko yang interiornya mewah banget (Interior Design oke), tapi gak ada tulisan petunjuk ruang ganti atau kasir sama sekali (EGD nol). Pasti lo bakal bingung dan awkward mau nanya ke pelayan, kan?

Sebaliknya, kalau tulisan petunjuk dan muralnya udah keren banget (EGD oke), tapi ruangannya gelap dan tata letak raknya bikin desak-desakan (Interior Design zonk), pembeli juga bakal kapok balik lagi.

Ketika Interior Design dan EGD menyatu, inilah yang terjadi:

A. Navigasi yang Seamless (Gak Bikin Bingung)

Interior Design ngaturnya jalur jalan pengunjung dari pintu masuk ke area produk, lalu ke kasir. Nah, EGD memperjelas jalur itu lewat signage atau simbol-simbol visual yang gampang dipahami. Pengunjung jadi gak perlu celingukan nyari barang yang mereka butuhkan.

B. Menguatkan Identity & Vibes Brand

Material kayu hangat dari Interior Design yang dipadukan dengan tipografi neon cozy dari EGD bakal langsung nyampaiin storytelling toko tersebut. Pengunjung yang masuk bisa langsung ngerasain: “Oh, toko ini vibes-nya streetwear banget” atau “Wah, ini mah tempatnya cewe-cewe bumi.”

C. Bikin Toko Jadi “Instagrammable” (Media Promosi Gratis!)

Gen Z mana sih yang gak suka foto-foto? Kolaborasi interior yang ciamik dengan grafis dinding (mural/papan neon) yang catchy bakal bikin pengunjung spontan ngeluarin HP buat bikin konten. Secara gak langsung, lo dapet promosi gratis di media sosial dari pengunjung!

3. Gimana Cara Menggabungkan Interior Design & EGD dalam Toko?

Biar penerapannya maksimal dan gak kelihatan “maksa”, ini beberapa tips yang bisa diterapkan:

  1. Samakan Palet Warna & Tema: Warna font pada papan petunjuk (EGD) harus match atau kontras secara harmonis dengan cat dinding dan warna furnitur (Interior Design).

  2. Gunakan Material yang Senada: Kalau konsep interior tokonya industrial (banyak semen ekspos dan besi), buatlah papan petunjuk atau logo dengan material akrilik gelap, neon, atau plat besi berserat.

  3. Pencahayaan yang Tepat: Tempatkan elemen EGD utama (seperti logo toko) di titik yang dapet sorotan lampu (spotlight) terbaik dari rancangan interior.

Penulis: zahra smk setih setio 2