Gubuku – Pernah gak sih lo lagi scrolling toko online atau aplikasi food delivery, terus ngelihat baju yang harganya dicoret dari Rp500.000 jadi Rp199.000? Seketika otak lo langsung mikir: “Wah, gila sih ini murah banget, rugi kalau gak dibeli sekarang!”
Padahal, bisa jadi harga asli baju itu memang Rp199.000 dari awal.
Fenomena ini bukan kebetulan, guys. Dalam dunia marketing dan psikologi konsumen, trik ini dinamakan Anchoring Effect. Buat lo yang punya bisnis online, desainer UI/UX, atau sekadar pengen jadi pembeli yang lebih cerdas, memahami strategi ini hukumnya wajib banget.
Yuk, kita bongkar gimana Anchoring Effect bekerja dan cara menerapkannya pada penataan tata letak (layout) harga di katalog digital!
Apa Sih Anchoring Effect Itu? (Versi Gampang Paham)
Anchoring Effect (Efek Anjlok/Jangkar) adalah kecenderungan otak manusia untuk terlalu fokus pada informasi pertama yang mereka lihat (disebut sebagai “anchor” atau jangkar) saat membuat keputusan.
Informasi pertama ini bakal jadi standar acuan buat menilai informasi berikutnya. Jadi, ketika lo ngelihat angka yang tinggi terlebih dahulu, angka-angka berikutnya yang lebih rendah bakal kelihatan jauh lebih murah dan menguntungkan, meskipun secara nominal angka tersebut masih terbilang lumayan.
4 Trik Penataan Tata Letak Harga di Katalog Digital Berbasis Anchoring Effect
Bikin katalog digital di website, Instagram, atau aplikasi itu gak cuma soal feed yang estetik. Penempatan posisi angka sangat menentukan psikologi pembeli. Ini dia trik visualnya:
1. Teknik Harga Coret (Original vs. Discounted Price)
Ini adalah bentuk anchoring paling klasik tapi tetap paling ampuh.
-
Penerapan Visual: Tampilkan harga asli yang lebih mahal di bagian atas atau di samping dengan ukuran font agak kecil dan garis dicoret (misal: ~~Rp350.000~~). Lalu taruh harga promo dengan ukuran font lebih besar dan warna yang mencolok (misal: Rp149.000).
-
Dampaknya: Otak pembeli langsung mengunci angka Rp350.000 sebagai tolok ukur value produk tersebut, sehingga Rp149.000 terasa seperti penawaran terbaik.
2. Menyusun Opsi dari yang Paling Mahal ke Paling Murah
Saat bikin katalog produk digital atau daftar paket subscription, usahakan menyusun daftar dari harga tertinggi di posisi paling kiri atau paling atas.
-
Penerapan Visual:
-
Paket VIP/Pro: Rp999.000
-
Paket Standard: Rp499.000
-
Paket Basic: Rp199.000
-
-
Dampaknya: Karena “jangkar” pertamanya adalah Rp999.000, saat mata pengguna bergeser ke Paket Standard (Rp499.000), harga tersebut terasa sangat masuk akal dan terjangkau.
3. Trik “Decoy Effect” (Memasang Opsi Pembanding)
Sering ngelihat pilihan paket di aplikasi streaming atau katalog jualan?
-
Penerapan Visual:
-
Opsi A (Digital Only): Rp50.000
-
Opsi B (Fisik Only): Rp100.000
-
Opsi C (Digital + Fisik): Rp100.000
-
-
Dampaknya: Opsi B dipasang hanya sebagai “umpan” (decoy). Informasi harga Opsi B menjadi jangkar yang membuat Opsi C terlihat sangat “value for money” karena pembeli mendapatkan dua benefit dengan harga yang sama.
4. Bikin Highlight pada “Most Popular” Plan
Gunakan teknik memecah harga menjadi nilai yang lebih kecil (debiasing anchor).
-
Penerapan Visual: Daripada menulis “Rp1.200.000 / tahun”, ubah tata letaknya menjadi “Hanya Rp100.000 / bulan” (dengan catatan kecil billed annually).
-
Dampaknya: Angka Rp100.000 bertindak sebagai jangkar mental baru yang jauh lebih ringan diterima oleh dompet anak muda dibanding angka jutaan.
Contoh Studi Kasus: Menu Makanan & Paket SaaS
| Jenis Katalog Digital | Penataan Tanpa Anchoring ❌ | Penataan Dengan Anchoring ✅ |
| Kopi / Boba | Boba Large: Rp30.000 | ~~Rp45.000~~ Rp30.000 (Hemat 33%!) |
| SaaS / Aplikasi | Beli Bulanan: Rp150.000/bln | Rp1.800.000/thn (Cuma Rp99.000/bln jika bayar tahunan) |
| Fashion / Thrifting | Baju A: Rp120.000 | Tampilkan Baju Premium Rp500.000 di paling atas, Baju A kelihatan sangat murah |
Penulis kiki dari smkn 9 bungo




Leave a Reply