Cara Merancang Visual Interface untuk Antarmuka Layar Navigasi

Cara Merancang Visual Interface untuk Antarmuka Layar Navigasi

Gubuku – Pernah kebayang gak gimana rasanya meluncur ke kedalaman ribuan meter di bawah permukaan laut yang gelap gulita? Di laut dalam (deep sea), gak ada sinyal GPS, gak ada cahaya matahari, dan tekanan airnya bisa dengan gampang nge-geprak besi kapal. Satu-satunya “mata” dan “telinga” buat pilot kapal selam riset adalah layar navigasi (UI/UX) di depan mereka.

Merancang antarmuka (visual interface) buat kapal selam laut dalam itu levelnya beda banget sama bikin UI aplikasi Gojek atau Spotify. Salah desain dikit, risikonya bukan cuma user ngasih bintang satu, tapi bisa nyawa melayang!

Yuk, kita bedah gimana cara ngerancang screen interface kapal selam riset laut dalam yang estetik, futuristik, tapi tetep life-saving!

1. Warna: Lupakan Light Mode, Saatnya Dark Mode Level Ekstrem

Di dalam kabin kapal selam yang sempit, lampu utama biasanya dimatikan atau dikondisikan redup banget biar gak bikin silau dan mata gak gampang lelah (visual fatigue).

  • Gunakan Kontras Tinggi: Latar belakang harus hitam pekat (pure dark).

  • Warna Aksentuasi Khusus: Pakai warna neon yang tajam kayak cyan, electric green, atau amber. Warna-warna ini punya tingkat keterbacaan (readability) paling tinggi di dalam ruangan gelap.

  • Merah Buat Bahaya: Simpan warna merah cuma buat peringatan darurat (warning system) kayak kebocoran lambung, krisis oksigen, atau masalah tekanan air.

2. Hierarki Informasi: Prioritaskan Data Vital Dulu!

Pilot kapal selam gak punya waktu buat scrolling atau nyari-nyari menu pas lagi dalam situasi kritis. Semua informasi penting harus kelihatan cuma dalam sekali lirik (at-a-glance dashboard).

  • Primary Data (Paling Besar & Jelas): Kedalaman (Depth), Tekanan (Pressure), Sisa Oksigen (O2 Levels), dan Posisi Baterai.

  • Secondary Data: Citra Sonar 3D, Kecepatan Arus, dan Suhu Luar.

  • Tertiary Data: Data sampel biologis atau status kamera luar yang bisa di-skip kalau gak lagi observasi.

Baca Juga  Strategi Memasarkan Jasa Desain

3. Visualisasi Sonar & Navigasi Spasial 3D

Di laut dalam yang pitch black, kamera biasa gak bakal mempan jarak jauh. Navigasi sepenuhnya bergantung sama Sonar (pancaran gelombang suara).

  • Desain interface harus bisa ngubah data gelombang sonar yang rumit jadi peta topografi 3D secara real-time.

  • Buat indikator visual yang jelas antara palung, terumbu karang, atau bangkai kapal (shipwreck) supaya kapal selam gak nabrak tebing bawah laut.

  • Tambahkan garis grid perspektif (spatial reference) biar pilot tetep paham orientasi atas-bawah dan kemiringan kapal (pitch & roll).

4. Touchscreen vs Physical Buttons: Kombinasi Wajib!

Walaupun UI berbasis layar sentuh (touchscreen) kelihatan modern dan futuristik, di kondisi darurat atau saat kapal terguncang akibat arus kencang, menekan layar sentuh sering kali gak akurat.

  • Hybrid Controls: Fungsi-fungsi krusial (seperti emergency ballast release atau tombol kompresi oksigen) harus berbentuk tombol fisik (tactile switch) dengan respons lampu di layar.

  • Hit-box Besar di Layar: Buat tombol touchscreen di UI dengan ukuran minimal dua kali lipat ukuran standar UI HP biasa, biar gak gampang salah tekan pas ada guncangan.

5. Feedback System Berbasis Visual & Audio yang Jelas

Saat pilot fokus ngeliat ke satu titik (misalnya lagi ngendaliin lengan robot buat ambil sampel karang purba), mereka bisa gak sadar kalau ada indikator perubahan tekanan.

  • Gunakan pulsing animation (efek kedip halus) buat informasi yang butuh perhatian urgent.

  • Padukan indikator visual dengan frekuensi audio yang beda-beda (misalnya nada beep lembut buat update posisi, dan sirene frekuensi rendah buat bahaya darurat).

Penulis kiki dari smkn 9 bungo