Gubuku –
Pernah gak sih lo ditanya sama klien atau HRD, “Boleh lihat link website portofolio lo?” Terus lo cuma bisa ngasih link Google Drive yang isinya berantakan atau akun Instagram yang dicampur foto jalan-jalan?
Big no, bestie! Di era serba digital ini, punya website portofolio sendiri itu ibarat punya “rumah” atau galeri pribadi di internet. Bukan cuma bikin lo kelihatan 10x lebih profesional, punya website portofolio juga bikin personal branding lo makin kuat dan bernilai jual tinggi.
Gak usah pusing mikirin kodingan yang ribet. Yuk, simak panduan lengkap cara memilih domain name dan membangun website portofolio yang simpel tapi tetap slay dan profesional!
1. Trik Memilih Domain Name (Alamat Website) yang Tepat
Domain name itu ibarat alamat rumah lo di internet (contoh: namalo.com). Karena ini bakal dipajang di resume dan media sosial, pilihlah nama domain yang profesional tapi gampang diingat.
Tips Racik Nama Domain:
-
Pakai Nama Asli (Gunakan Nama Depan & Belakang): Opsi terbaik adalah
namalengkap.com(misal: andipratama.com). Ini bikin brand diri lo gampang di-Google. -
Tambahkan Profesi/Niche (Jika Nama Asli Sudah Dipakai): Kalau nama lo pasaran, coba tambahin kata kunci profesi di belakangnya. Contoh:
andidesign.com,sarahcreative.com, ataubudiwrites.com. -
Pilih Ekstensi yang Populer: Prioritaskan .com karena paling familiar. Kalau tidak ada, ekstensi seperti .me, .co, .design, atau .id juga keren banget buat anak muda.
-
Hindari Angka dan Tanda Hubung (-): Bikin susah diketik dan kelihatan kayak website spam. Keep it clean!
2. Pilih Platform Bikin Website (Gak Perlu Jago Koding!)
Hari gini bikin website udah gak harus belajar HTML atau CSS dari nol. Banyak platform website builder berbasis drag-and-drop yang hasil desainnya estetik parah:
| Platform | Keunggulan | Cocok Untuk |
| Framer / Webflow | Desain super modern, animasi mulus, bebas kustomisasi | Desain Grafis, UI/UX, & Digital Artist |
| Squarespace | Template bawaan udah estetik & clean banget | Fotografer, Model, & Content Creator |
| WordPress.org | Sangat fleksibel, cocok buat jangka panjang | Copywriter, Blogger, & Freelancer Umum |
| Readymag / Carrd | Praktis, cepat dibuat, cocok buat one-page portfolio | Pemula yang mau website simpel 1 halaman |
3. Struktur Halaman yang Wajib Ada di Website Lo
Biar pengunjung gak pusing, buat struktur website yang simpel dan straight to the point. Cukup sediakan halaman/bagian ini:
-
Hero Section (Halaman Utama): Perkenalan singkat dalam 1-2 kalimat. Sebutkan nama lo, profesi, dan nilai tambah yang lo tawarkan. (Contoh: “Hi, gue Andi! Graphic Designer yang fokus ngebantu brand lokal tampil aesthetic dan modern.”)
-
Selected Works (Karya Terbaik): Pajang 3-6 proyek terbaik lo lengkap dengan case study singkat (masalah, proses kreatif, dan hasil akhirnya).
-
About Me (Tentang Lo): Ceritain sedikit latar belakang, keahlian (skillset), tools yang lo kuasai, dan pengalaman kerja secara santai namun tetap sopan.
-
Contact / CTA (Call to Action): Cantumkan email profesional dan tombol menuju WhatsApp atau LinkedIn lo. Bikin orang gampang buat ngehubungin lo!
4. Desain yang Simpel > Desain yang Kebanyakan Aksesoris
Kesalahan paling sering anak muda pas bikin website portofolio adalah memasukkan terlalu banyak animasi, warna yang tabrakan, atau musik latar yang bikin kaget.
-
Konsisten sama Warna & Tipografi: Pakai maksimal 2-3 kombinasi warna dan 2 jenis font biar tampilan website tetap bersih.
-
Mobile-Friendly (Responsif): Pastikan website lo kelihatan bagus saat dibuka dari HP. Ingat, kebanyakan klien bakal buka link portofolio lo lewat smartphone!
-
Kecepatan Loading: Kompres ukuran gambar/foto portofolio lo sebelum di-upload biar website gak lemot saat diakses.
Penulis: Adellia smk sudj




Leave a Reply