Gubuku- Jangan Asal Cetak! Ini 4 Kesalahan Branding Media Cetak yang Bikin Gen Z Langsung Skip
Pernah nggak, sih, kamu lihat brosur, majalah, atau baliho pinggir jalan tapi malah bikin cringe saking jadulnya? Padahal, di tengah gempuran konten digital, media cetak sebenarnya masih punya tempat. Tapi, kalau eksekusinya salah, jangankan dibaca—dilirik pun ogah!
Buat kamu yang lagi merintis brand, punya tugas kuliah, atau lagi kerja di industri kreatif, wajib banget tahu jebakan batman ini. Biar brand kamu nggak kelihatan “kuno”, yuk kenali kesalahan branding media cetak yang paling sering terjadi dan cara menghindarinya!
1. Desain Terlalu Ramai (Visualnya Bikin Pusing)
Prinsip less is more itu nyata banget, guys. Salah satu dosa besar dalam media cetak adalah naruh terlalu banyak teks, warna yang tabrakan, sampai font yang ribet dalam satu lembar kertas.
-
Kenapa ini salah? Gen Z dan pembaca masa kini punya rentang perhatian yang singkat (attention span pendek). Kalau poster atau brosur kamu kelihatan kayak papan pengumuman RT yang penuh, orang bakal malas baca.
-
Solusinya: Bikin desain yang clean, minimalis, dan aesthetic. Kasih ruang kosong (whitespace) supaya mata pembaca bisa istirahat dan langsung fokus ke poin utama brand kamu.
2. Pesan Kurang Jelas (Nggak To The Point)
Mau promosi produk tapi bahasanya mutar-mutar pakai kalimat kiasan yang berat? Duh, tinggalin cara lama ini! Media cetak punya ruang yang terbatas, jadi setiap kata harus punya makna.
-
Kenapa ini salah? Pembaca cuma butuh waktu 3 detik buat mutusin: mau dibaca atau dibuang ke tempat sampah. Kalau pesan utamanya nggak kelihatan dalam sekali lihat, mereka bakal langsung skip.
-
Solusinya: Gunakan headline yang catchy, langsung ke inti, dan relatable. Pakai bahasa sehari-hari yang santai tapi tetap profesional (kecuali brand kamu emang formal banget).
3. Salah Pilih Jenis Kertas (Kelihatan Murahan)
Jangan sepelekan sentuhan fisik! Media cetak itu menang di pengalaman panca indera—orang bisa megang, ngerasain tekstur, bahkan nyium aroma kertasnya.
-
Kenapa ini salah? Kalau kamu pakai kertas tipis yang gampang lecek atau tembus pandang demi hemat budget, brand kamu bakal langsung dicap “murahan” dan nggak niat.
-
Solusinya: Investasi sedikit di bahan material. Pilih jenis kertas yang kokoh kayak art paper, matte paper, atau kasih sentuhan finishing kayak spot UV atau emboss biar kelihatan lebih eksklusif dan worth it buat dikoleksi.
4. Gak Punya “Jembatan” ke Platform Digital
Zaman sekarang, cetak aja nggak cukup. Cetak itu cuma pintu gerbang pertama buat menarik perhatian, tapi konversinya tetap ada di online.
-
Kenapa ini salah? Banyak brand bikin brosur atau kemasan cetak keren, tapi lupa naruh Call to Action (CTA) digital. Akibatnya? Orang yang tertarik mau nyari tahu lebih lanjut jadi bingung harus buka apa.
-
Solusinya: Selalu sisipkan QR code yang aktif, link singkat ke Instagram/TikTok, atau info website yang jelas. Jadikan media cetak sebagai jalan tol menuju dunia digital brand kamu.
penulis : pebrian – SMKN 6 BUNGO




Leave a Reply