Tantangan Mendesain Papan Penunjuk Arah untuk Fasilitas Umum

Tantangan Mendesain Papan Penunjuk Arah untuk Fasilitas Umum

Tantangan Mendesain Papan Penunjuk Arah untuk Fasilitas Umum

Gubuku – Pernah gak sih lo lagi di stasiun kereta, bandara, atau rumah sakit besar, terus bingung setengah mati nyari toilet atau pintu keluar? Pas ngelihat papan penunjuk arah (wayfinding signage), tulisannya penuh banget, ukurannya kecil-kecil, plus ada 3-4 bahasa yang bikin mata auto-pusing.

Mendesain papan penunjuk arah (signage) buat fasilitas umum itu sekilas kelihatan sepele: “Ah, tinggal bikin tulisan, kasih panah, terus Google Translate ke bahasa asing, beres!”

Padahal, kenyataannya gak sebercanda itu, bestie! Apalagi kalau pengerjaannya mencakup multibahasa. Ada banyak tantangan visual, budaya, hingga psikologi audiens yang harus dipikirkan secara matang.

Yuk, kita bedah apa aja tantangan terbesar dalam mendesain papan penunjuk arah multibahasa biar fasum makin ramah buat siapa saja!

1. Visual Overload: Gimana Cara Muatin Banyak Teks Tanpa Kelihatan Berantakan?

Tantangan nomor satu tentu saja ruang fisik yang terbatas. Papan penunjuk arah itu gak boleh segede baliho di jalan raya, tapi harus muat informasi dalam beberapa bahasa (misalnya: Bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, atau Bahasa Daerah).

  • Masalahnya: Kalau semua bahasa dimasukkan dengan ukuran font yang sama, papannya bakal kelihatan padat, sesak, dan susah dibaca dari jauh (visual noise).

  • Solusinya: Desainer harus pintar mengatur hirarki visual. Bahasa utama (lokal) biasanya diberi ukuran lebih besar atau warna lebih tegas, sementara bahasa sekunder dibuat sedikit lebih kecil atau dengan bobot font (font weight) yang berbeda.

2. Panjang Kata yang Beda-Beda (Panjang Teks Gak Pernah Sama!)

Gak semua bahasa punya panjang kata yang sama untuk satu arti yang sama.

  • Bahasa Inggris: “Exit” (4 huruf).

  • Bahasa Indonesia: “Pintu Keluar” (11 huruf).

  • Bahasa Jerman: “Ausgang” (7 huruf).

Pas lo mau bikin layout yang simetris dan rapi, perbedaan panjang karakter ini bisa ngerusak komposisi desain. Kalau terpaksa nge-press ukuran tulisan demi satu bahasa yang kepanjang, keterbacaan (legibility) bahasa lainnya malah jadi korban.

3. Pilihan Font yang Harus “Inklusif” untuk Berbagai Aksara

Kalau papan penunjuk arah cuma pakai alfabet Latin (A-Z), urusannya masih relatif gampang. Tapi gimana kalau fasilitas umum itu harus memuat aksara non-Latin seperti Mandarin, Arab, Jepang, atau Jawa/Sunda?

  • Gak semua tipe font mendukung karakter non-Latin secara konsisten.

  • Beda aksara, beda juga cara bacanya! Contohnya, aksara Arab dibaca dari kanan ke kiri (RTL – Right to Left), sedangkan alfabet Latin dari kiri ke kanan (LTR). Ngatur tata letak panah penunjuk arahnya jadi PR tersendiri biar gak membingungkan.

4. Jebakan “Jatuh Nilai” Karena Pilihan Ikon (Piktogram) yang Keliru

Di sinilah piktogram atau simbol/ikon berperan sebagai “bahasa universal”. Harusnya, orang asing yang gak paham tulisan lokal tetap bisa paham arti papan penunjuk arah cuma dengan melihat ikonnya.

Tapi, hati-hati! Ikon juga punya batasan budaya.

  • Simbol orang memakai rok buat penunjuk “Toilet Wanita” mungkin dipahami di seluruh dunia, tapi gimana dengan simbol fasilitas ibadah, tempat menyusui, atau ruang medis tertentu?

  • Desainer harus memastikan piktogram yang dipakai mengacu pada standar internasional (seperti ISO 7001) biar gak menimbulkan salah tafsir bagi wisatawan mancanegara.

5. Keterbacaan bagi Penyandang Disabilitas & Pengunjung Lanjut Usia

Fasilitas umum itu milik bersama, artinya papan penunjuk arah harus bisa diakses dan dibaca oleh siapa saja, termasuk lansia atau pengunjung dengan gangguan penglihatan (low vision).

  • Kontras Warna: Kombinasi warna teks dan latar belakang harus sangat tinggi (misal: kuning di atas hitam, atau putih di atas biru tua).

  • Pencahayaan: Papan harus tetap kelihatan jelas di malam hari atau di sudut fasilitas yang agak remang.

  • Tinggi Pemasangan: Papan tidak boleh dipasang terlalu tinggi atau tertutup ornamen arsitektur lainnya.

Ringkasan: Checklist Desain Signage Multibahasa yang Efektif

Elemen Desain Yang Harus Dilakukan (Do) Yang Harus Dihindari (Don’t)
Hirarki Teks Bedakan ukuran/warna antara bahasa utama dan sekunder Pakai satu ukuran font sama rata buat semua bahasa
Ikon/Piktogram Gunakan simbol standar internasional (ISO) Bikin ikon kustom yang membingungkan atau bernuansa lokal berlebih
Kombinasi Warna Pakai kontras tinggi (misal: Putih-Biru, Kuning-Hitam) Pakai warna-warna pastel yang redup dan menyatu dengan tembok
Penerjemahan Pakai penerjemah profesional/native speaker Cuma modal copy-paste asal dari Google Translate

penulis : diah smkn 8 bungo