Gubuku – Gak kaya desain komersial mainstream yang serba rapi, simetris, dan polished, gaya ala era Dadaisme justru makin laris manis di tangan desainer indie masa kini. Tapi, kenapa sih gaya visual yang sekilas kelihatan absurd ini malah digandrungi banget, khususnya sama Gen Z?
Gak cuma sekadar ikut-ikutan tren, ini dia alasan kenapa estetika Dadaisme punya tempat spesial di hati para desainer indie!
1. Pemberontakan Terhadap “Minimalisme” yang Membosankan
Beberapa tahun belakangan, dunia desain didominasi sama gaya clean minimalism: warna pastel, tata letak rapi, dan font tanpa lekukan yang seragam. Lama-lama, visual kayak gini terasa dingin dan gak punya jiwa.
Dadaisme hadir sebagai bentuk pemberontakan visual. Estetika ini mendobrak semua aturan desain tradisional:
-
Desain acak-acakan yang sengaja menolak kesempurnaan.
-
Elemen kolase yang menabrakkan berbagai tekstur dan bentuk.
-
Tipografi liar tanpa aturan hirarki yang kaku.
Buat desainer indie, gaya ini adalah napas segar untuk keluar dari kejenuhan tren serba rapi.
2. Kebebasan Ekspresi Tanpa Takut Judgement
Dadaisme lahir dari gerakan seni awal abad ke-20 yang sengaja menolak logika dan konvensi seni baku. Prinsip utamanya simpel: tidak ada aturan.
Buat desainer indie Gen Z yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, gaya ini membebaskan mereka dari rasa takut bikin “kesalahan” teknis. Kamu gak perlu pusing mikirin grids atau proporsi rasio emas. Selama visual itu menyampaikan emosi yang jujur, mentah, dan berani, maka karya itu dianggap berhasil.
3. Hemat Budget, High-Concept
Masalah klasik desainer indie biasanya ada di anggaran atau aset visual yang terbatas. Di sinilah letak kejeniusan estetika Dadaisme!
Gaya kolase ala Dadaisme memanfaatkan teknik found art (menggunakan objek atau gambar yang sudah ada). Desainer bisa menggabungkan:
-
Potongan majalah/koran bekas yang di-scan.
-
Foto stok gratisan yang diedit secara ekstrem.
-
Tekstur kertas kusam atau efek glitch.
Tanpa perlu sewa studio foto mahal atau beli aset 3D yang rumit, desainer indie tetap bisa menghasilkan karya seni bertaraf tinggi yang estetik dan punya nilai jual unik.
4. Sangat Relatable dengan Humor & Memes Gen Z
Ada alasan kenapa budaya meme Gen Z sering dianggap absurd dan punya dark humor. Gen Z tumbuh di era informasi yang membingungkan dan penuh ketidakpastian.
Seni Dadaisme punya energi yang sama persis: merayakan ketidaklogisan dunia. Visualnya yang terkesan ‘ngasal’ tapi ironis sangat cocok dengan selera humor dan cara pandang Gen Z terhadap realita. Desain indie ber-estetika Dadaisme pun terasa lebih autentik, tidak berpura-pura, dan jauh dari kesan kaku.
penulis;bungasmksudj



Leave a Reply