Cara Merancang Wayfinding System Rumah Sakit

Cara Merancang Wayfinding System Rumah Sakit

Gubuku – Pernah gak sih kamu atau keluarga masuk ke rumah sakit, tapi malah bingung dan putar-putar cari ruang pendaftaran, poli, atau apotek? Rasanya bikin makin stress dan panik, kan?

Di sinilah wayfinding system punya peran krusial. Wayfinding system bukan cuma sekadar pasang papan petunjuk jalan biasa, melainkan cara kita merancang alur navigasi—mulai dari papan arah, warna, petunjuk visual, hingga elemen digital—agar orang bisa berpindah dari satu titik ke titik lain dengan mudah tanpa perlu merasa linglung.

Buat kamu yang lagi dapat tugas, proyek desain, atau penasaran gimana cara bikin wayfinding system rumah sakit yang efektif dan enggak bikin pusing, yuk simak panduannya di bawah ini!

1. Pahami User Journey dan Titik Krusial (Decision Points)

Langkah paling awal adalah memposisikan diri sebagai pengunjung yang belum pernah datang ke rumah sakit tersebut. Pemetaan alur jalan (user journey) harus jelas dari awal hingga akhir:

  • Entry point: Area parkir, drop-off lobby, dan pintu masuk utama.

  • Decision points: Persimpangan koridor, lift, dan tangga. Di titik-titik inilah informasi arah harus jelas dan langsung terlihat.

  • Destination point: Poli tujuan, ruang rawat inap, lab, atau apotek.

2. Gunakan Color Coding untuk Setiap Zona

Membaca teks panjang saat situasi panik atau buru-buru itu susah banget. Penggunaan skema warna (color coding) sangat membantu otak memproses informasi dengan cepat.

  • Bagi area berdasarkan warna: Misalnya, zona Poli menggunakan warna hijau, zona UGD warna merah, dan zona Rawat Inap warna biru.

  • Gunakan garis di lantai (floor graphics): Garis warna di lantai sangat efektif mengarahkan pasien langsung ke tujuan tanpa perlu berkali-kali bertanya ke petugas.

Baca Juga  Seni Merancang Custom Pattern untuk Interior Cafe

3. Pilih Piktogram dan Tipografi yang Jelas

Prinsip utama desain wayfinding di fasilitas kesehatan adalah mudah dibaca oleh siapa saja, termasuk lansia atau orang dengan keterbatasan visual.

  • Tipografi: Gunakan font tipe sans-serif (seperti Arial, Helvetica, atau Inter) yang tegas, bersih, dan berukuran cukup besar.

  • Piktogram universal: Sertakan ikon sederhana yang mudah dipahami secara umum (misal: ikon kursi roda untuk fasilitas disabilitas, ikon palang merah untuk UGD).

  • Kontras warna: Pastikan kontras antara warna tulisan dan latar belakang papan petunjuk sangat tinggi.

4. Integrasikan Desain Digital dan Smart Signage

Gen Z dan generasi digital saat ini sangat terbiasa dengan teknologi visual yang interaktif. Mengintegrasikan teknologi ke dalam wayfinding system bakal menaikkan user experience secara signifikan:

  • Peta interaktif (kiosk display): Layar sentuh di area lobby untuk mencari posisi ruangan secara real-time.

  • Sistem kode QR: Pengunjung tinggal memindai kode QR di area masuk untuk mendapatkan peta rute navigasi langsung di smartphone mereka.

5. Terapkan Prinsip Inklusivitas dan Aksesibilitas

Rumah sakit didatangi oleh berbagai kalangan dengan kondisi fisik yang beragam. Desain wayfinding yang baik wajib menerapkan standar inklusif:

  • Sertakan huruf Braille dan teks timbul pada papan informasi di dinding atau pintu.

  • Posisikan ketinggian papan petunjuk dan layar interaktif agar tetap bisa dijangkau atau dilihat oleh pengguna kursi roda.

  • Sediakan petunjuk arah audio (audio guidance) jika memungkinkan.

    penulis;bungasmksudj