Gubuku – Sebagai creators atau desainer grafis zaman now, mimpi buat karya lo dikenal sampai ke luar negeri alias go global itu bukan cuma angan-angan belaka. Apalagi dengan adanya platform kayak ArtStation, Webtoon, hingga Web3/NFT, pasar internasional udah terbuka lebar banget!
Tapi tunggu dulu, bestie. Banyak desainer yang karya visualnya keren parah, pas dilepas ke pasar global malah kena kritik tajam atau biasa-biasa aja responsnya. Kenapa bisa gitu? Salah satu penyebab utamanya adalah Visual Bias.
Tanpa disadari, kita sering nge-desain berdasarkan apa yang cuma familiar di lingkungan atau budaya kita sendiri. Akibatnya? Karakter lo bisa kelihatan keliru, menyinggung budaya lain, atau bahkan cringe di mata audiens internasional.
Biar character design buatan lo bisa diterima dengan hangat dan relevan di pasar global, yuk simak trik menghindari visual bias di bawah ini!
1. Pahami Dulu Apa Itu “Visual Bias” (Jangan Asal Asumsi!)
Secara sederhana, visual bias adalah kecenderungan kita menggunakan patokan visual tertentu (seperti gaya rambut, pakaian, warna kulit, ekspresi, hingga postur tubuh) sebagai “standar umum”, padahal standar itu cuma berlaku di budaya lo sendiri.
Contoh Gampangnya:
-
Menggambarkan karakter “pintar” pasti pakai kacamata tebal dan muka culun.
-
Menggambarkan karakter dari budaya tertentu tapi cuma mengandalkan stereotip jadul yang udah gak relevan.
Pasar global itu super beragam (diverse). Kalau lo masih pakai kacamata stereotip, karakter lo bakal kerasa “dangkal” dan gak punya daya tarik yang autentik.
2. Riset Kebudayaan yang Mendalam (Bukan Cuma Nonton Film Hollywood)
Kunci utama mengalahkan bias adalah pengetahuan. Pas lo mau bikin karakter yang terinspirasi dari latar belakang budaya tertentu, jangan cuma riset setengah-setengah!
-
Hindari “Cultural Appropriation”: Pahami makna di balik simbol budaya, pakaian adat, atau riasan wajah. Jangan asal comot cuma karena kelihatan “keren” atau estetik.
-
Gunakan Sumber Autentik: Cari referensi langsung dari kreator, dokumenter, atau buku yang dibuat oleh orang dari budaya asal tersebut, bukan cuma berdasarkan versi pop-culture barat.
3. Diversifikasi Fitur Wajah dan Proporsi Tubuh
Banyak desainer pemula yang tanpa sadar kena jebakan Same Face Syndrome—yaitu bikin semua karakter dengan bentuk mata, hidung, dan bibir yang sama persis, cuma dibedakan warna rambutnya doang.
Biar karakter lo inklusif dan disukai audiens global:
-
Eksplorasi Struktur Wajah: Pelajari berbagai bentuk tulang pipi, kelopak mata, hidung, dan bibir dari berbagai ras di dunia.
-
Rayakan Keragaman Bentuk Tubuh: Karakter utama gak harus selalu punya proporsi tubuh ideal ala model majalah. Variasi tinggi, bentuk tubuh, dan warna kulit bikin karakter lo terasa lebih hidup dan relatable.
4. Waspadai Psikologi Warna yang Berbeda di Tiap Negara
Warna itu punya bahasa visual sendiri, tapi maknanya bisa beda 180 derajat tergantung di mana lo tinggal!
-
Warna Putih: Di budaya Barat sering diidentikkan dengan kesucian dan pernikahan, tapi di beberapa budaya Timur (seperti Cina atau India), putih identik dengan duka atau kematian.
-
Warna Merah: Di Barat bisa melambangkan bahaya atau kemarahan, tapi di Asia Timur melambangkan keberuntungan dan kemakmuran.
Jadi, pastikan pemilihan warna pada karakter lo nyambung sama narasi dan latar belakang yang mau lo sampaikan ke pasar target!
5. Minta Feedback dari Komunitas Internasional (Cultural Check)
Sebelum merilis desain karakter lo ke publik, penting banget buat dapet pandangan dari mata yang “segar”.
-
Post di Forum Kreatif Global: Manfaatkan komunitas di Reddit (seperti r/CharacterDesign), Discord art community, atau X (Twitter).
-
Dengarkan Masukan dengan Kepala Dingin: Kalau ada yang mengkritik bahwa ada elemen visual yang sensitif atau keliru, jadikan itu pelajaran buat evaluasi, bukan malah baper (burnout/defensif).
penulis : diah smkn 8 bungo




Leave a Reply