Gubuku – Buat yang baru nyemplung ke daster industri kreatif atau agencies, dengar kata “kritik” aja kadang udah bikin ketar-ketir duluan. Rasanya kayak karya yang udah dipikirin semalaman mau dibantai habis-habisan di depan umum.
Tapi tunggu dulu, bestie! Di tim profesional, ada satu ritual wajib yang namanya Design Critique Session (Design Crit). Bukannya bikin mental drop, agenda mingguan ini justru jadi rahasia utama kenapa tim desain bisa makin kompak, solid, dan karyanya makin berkelas.
Penasaran kenapa sesi ini krusial banget dan gak seseram yang lo bayangkan? Yuk, bedah alasannya di bawah ini!
1. Memisahkan “Karya” dari “Harga Diri” (Anti Baperan!)
Salah satu soft skill termahal di dunia desain adalah gak baperan pas karya lo dikritik. Di sesi critique, tim bakal terlatih buat memisahkan antara si pembuat dan karya yang dibuat.
-
Yang dikritik: Tatanan layout, hierarki teks, atau kontras warna yang belum pas.
-
Bukan yang dikritik: Skill, bakat, apalagi kepribadian lo!
Sesi mingguan ini bikin semua anggota tim paham kalau revisi atau masukan itu murni demi kualitas proyek, bukan serangan personal.
2. Buka “Blind Spot” yang Gak Kelihatan Sama Diri Sendiri
Pernah gak lo ngerjain satu desain berjam-jam, terus pas liat hasilnya ngerasa “Wah, ini udah sempurna banget!” Tapi pas di-share ke orang lain, ternyata ada typo gede di judulnya?
Nah, itu namanya design blindness. Karena lo udah terlalu lama natap layar yang sama, otak lo auto-mengabaikan kesalahan kecil. Sesi critique ngebantu lo nemuin sudut pandang baru (fresh eyes) dari rekan tim sebelum desain tersebut terlanjur sampai ke tangan klien.
3. Jadi Wadah “Brainstorming” Tanpa Hirarki
Sesi critique yang sehat itu sifatnya setara. Di sini gak berlaku tuh senioritas yang bikin anak magang atau pemula cuma bisa diam.
-
Semua orang berhak ngasih masukan selama alasannya objektif dan konstruktif.
-
Anak magang bisa belajar cara mikir para senior.
-
Senior bisa dapet ide-ide segar khas Gen Z dari para pemula.
Proses tukar pikiran yang terbuka ini yang bikin suasana kerja jadi safe space dan jauh dari kata toxic.
4. Belajar Komunikasi dan “Defend” Desain dengan Alasan Logis
Bikin desain bagus itu cuma 50% dari pekerjaan. Sisa 50%-nya lagi adalah kemampuan menyampaikan alasan di balik pilihan visual tersebut.
Melalui design critique mingguan, lo dipaksa buat latihan pitching kecil-kecilan:
-
Kenapa lo milih warna bold dibanding pastel?
-
Kenapa posisi tombol CTA ada di kanan bawah?
Lo bakal terlatih ngomong pakai data dan prinsip desain, bukan sekadar alasan “Soalnya menurut gue estetik aja, kak.”
Perbedaan Design Review vs Design Critique
Biar gak salah kaprah, ini dia bedanya sesi critique dengan review biasa:
| Fokus | Design Review | Design Critique |
| Tujuan Utama | Minta persetujuan (approval) dari klien/atasan. | Menganalisis & mengasah kualitas visual secara internal. |
| Pertanyaan | “Suka gak sama desain ini?” | “Apakah solusi visual ini sudah menjawab masalah?” |
| Suasana | Cenderung formal dan menentukan hasil akhir. | Kolaboratif, kasual, dan fokus pada proses. |
Penulis : kiki dari SMKN 9 Bungo




Leave a Reply