Gubuku –
Pernah gak sih lo lagi asyik nonton video YouTube, fokus ke pembicara di tengah layar, tapi tiba-tiba mata lo auto salfok ke tombol Subscribe yang kedip-kedip di pojokan? Padahal lo gak lagi ngelihatin sudut itu secara langsung.
Nah, rahasia di balik fenomena “salfok” ini namanya Peripheral Vision alias penglihatan tepi/sudut mata.
Di dunia desain grafis, UI/UX, hingga penataan display toko, memanfaatkan peripheral vision itu bagaikan punya cheat code. Lo bisa mengarahkan perhatian audiens ke aset penting tanpa harus bikin desain lo kelihatan penuh atau “teriak-teriak”.
Penasaran gimana cara kerjanya dan cara ngaturnya? Yuk, bedah rahasianya di bawah ini!
Apa Sih Peripheral Vision Itu?
Singkatnya, mata manusia punya dua cara melihat:
-
Foveal Vision (Penglihatan Pusat): Fokus tajam di tengah yang dipakai buat membaca teks atau melihat detail kecil. Area fokus ini cuma sekitar 1–2% dari total bidang pandang lo.
-
Peripheral Vision (Penglihatan Tepi): Area di luar fokus utama—alias sudut mata. Walau gak bisa baca teks yang sangat kecil, sudut mata ini super sensitif sama gerakan, kontras warna, dan bentuk dasar.
Nenek moyang kita dulu pakai peripheral vision buat mendeteksi predator yang ngendap-ngendap dari samping. Di era modern, desainer menggunakannya buat “memancing” perhatian pengguna biar gak kelewatan informasi penting.
Kenapa Aset di Sudut Mata Itu Penting?
Banyak desainer pemula berpikir kalau semua aset penting (seperti tombol Call to Action, logo, atau promo) harus ditumpuk di tengah layar. Hasilnya? Desain jadi crowded dan bikin mata cepat lelah.
Dengan memanfaatkan penglihatan tepi:
-
Desain Tetap Bersih (Clean): Area tengah tetap rapi untuk konten utama, sementara aset pendukung bekerja secara implisit di pinggir.
-
Navigasi Auto-Pilot: Pengguna bisa menemukan tombol navigasi secara refleks tanpa harus berpikir keras (frictionless).
-
Refleks Cepat: Otak manusia memproses gerakan di sudut mata jauh lebih cepat daripada membaca teks di tengah.
Cara Mengatur Aset Penting Pakai Trik Peripheral Vision
Biar peripheral vision audiens bekerja maksimal tanpa bikin mereka risih, ini dia beberapa strategi visual yang bisa lo terapkan:
1. Mainkan Kontras Warna yang Tajam
Mata bagian samping sangat peka terhadap perubahan cahaya dan warna. Kalau latar belakang desain lo cenderung gelap atau netral, taruh aset penting di sudut mata menggunakan warna yang sangat kontras.
-
Contoh: Tombol “Beli Sekarang” warna neon orange di pojok kanan bawah dengan latar background gelap/putih polos.
2. Manfaatkan Animasi Mikro (Micro-Movement)
Karena sudut mata didesain buat mendeteksi gerakan, beri sedikit efek gerak pada aset di pinggir layar.
-
Trik: Pakai efek pulse (berdenyut halus), hover bounce, atau kilatan cahaya tipis pada ikon penawaran khusus setiap beberapa detik sekali. Jangan terlalu cepat biar gak mengganggu konsentrasi utama!
3. Gunakan Isyarat Visual (Visual Cues / Directional Indicators)
Arahkan sudut mata audiens menggunakan elemen penunjuk yang mengalir dari pusat ke tepi.
-
Trik: Foto model yang matanya melirik ke arah pojok, panah halus, atau garis abstrak yang memandu arah pandang pengguna menuju elemen penting di pinggir.
4. Maksimalkan Area Bawah Kanan (F-Pattern & Z-Pattern)
Secara alami, alur membaca manusia membentuk pola F atau Z (dari kiri ke kanan, atas ke bawah). Sudut kanan bawah sering jadi “tempat perhentian” terakhir sebelum pengguna menggeser atau menutup layar.
-
Aplikasi: Tempatkan tombol chat customer service, tombol back to top, atau floating action button di area ini.
Ringkasan Trik Penataan Aset Visual
| Elemen Visual | Trik Peripheral Vision | Dampak ke Audiens |
| Warna | Gunakan warna kontras/komplementer | Auto-salfok walau tidak ditatap langsung |
| Gerakan | Berikan animasi micro-pulse | Memicu refleks bawaan manusia terhadap gerak |
| Posisi | Manfaatkan sudut kanan bawah | Menjadi tempat eksekusi akhir (CTA) |
| Bentuk | Pilih ikon/bentuk sederhana yang familier | Gampang dikenali otak tanpa perlu dibaca |
Penulis kikib dari smkn 9 bungo




Leave a Reply