Gubuku – Pernah ngerasa gak, beli barang atau pakaikan aplikasi yang visualnya aesthetic banget—ala-ala feeds Pinterest—tapi pas dipakai malah bikin emosi? Tombolnya susah dicari, checkout-nya berbelit-belit, atau fungsinya bikin bingung.
Di dunia desain, fenomena ini sering terjadi. Banyak yang terjebak fokus ke estetika (gimana rasanya pas dilihat), padahal yang bikin sebuah produk benar-benar bertahan lama adalah Design Rationality (alasan logis di balik setiap keputusan desain).
Kenapa Bagus Aja Gak Cukup?
Estetika itu ibarat first impression pas kencan: bikin tertarik dalam 3 detik pertama. Tapi Design Rationality adalah kepribadian dan karakter yang bikin hubungan itu bertahan lama.
-
Estetika = Visual & Emosi. Fokus pada warna, tipografi, dan keindahan tren sementara.
-
Design Rationality = Alasan & Solusi. Mengapa tombol ditaruh di kanan bawah? Mengapa memilih warna merah untuk notifikasi? Semua ada alasan berbasis data pengguna, bukan sekadar “bagus aja.”
Alasan Utama Design Rationality Wajib Ada
-
Memecahkan Masalah Nyata (Problem Solving) Desain yang rasional dibuat berdasarkan riset. Ketika aplikasi keuangan bikin navigasi yang simpel, tujuannya bukan cuma kelihatan clean, tapi supaya kamu gak salah klik pas transfer uang.
-
Pengalaman Pengguna Tanpa Hambatan (Frictionless UX) Visual yang terlalu ramai sering kali mengorbankan usability. Desain yang rasional memprioritaskan kemudahan navigasi daripada animasi heboh yang justru bikin aplikasi lagging.
-
Menghemat Waktu dan Biaya Development Ketika tim desainer punya rationality yang jelas, mereka gak bakal gonta-ganti elemen visual cuma karena ngikutin tren yang bakal basi dalam 3 bulan.
penulis;bungasmksudj




Leave a Reply