Gubuku – Pernah mikir nggak, gimana rasanya duduk di kursi kendali kapal luar angkasa ala Star Trek atau kokpit SpaceX? Layar penuh tombol neon, grafik melayang, dan angka-angka yang geraknya secepat kilat.
Buat kamu para desainer UI/UX Gen Z yang pengen bikin karya out of this world, ini dia panduan merancang visual interface wahana antariksa yang futuristik sekaligus aman.
1. Hukum Utama: Minimalis & Bebas Beban Cognitif
Astronot itu menghadapi tekanan mental luar biasa di luar angkasa. Tampilan UI yang terlalu ramai (cluttered) bakal bikin otak mereka overload.
-
Kurangi ‘Sampah’ Visual: Lupakan hiasan visual yang gak penting. Fokus cuma pada data krusial: level oksigen, bahan bakar, dan koordinat.
-
Informasi Hirarkis: Informasi paling vital (seperti peringatan darurat) harus paling gede, paling mencolok, dan bisa dibaca dalam hitungan milidetik.
2. Skema Warna Bukan Cuma Soal Estetika
Di bioskop, interface sci-fi selalu pakai warna neon blue atau cyberpunk purple. Tapi di dunia nyata, pilihan warna itu urusan nyawa.
-
Mode Dark Mode Kontras Tinggi: Latar belakang wajib gelap pekat untuk menghemat daya layar dan mengurangi kelelahan mata (eye strain).
-
Warna Universal: Gunakan warna yang punya makna psikologis jelas. Merah untuk Danger/Emergency, Kuning untuk Warning, dan Hijau/Biru Lampu untuk Nominal/Safe. Jangan dibalik-balik demi gaya!
3. Desain Ramah ‘Sarung Tangan Buntet’
Ingat, astronot sering kali pakai baju spacesuit lengkap dengan sarung tangan tebal bertekanan udara.
-
Target Sentuh Ekstra Besar: Tombol (buttons) di layar sentuh wajib punya ukuran besar dan jarak (padding) yang jauh biar gak salah tekan.
-
Feedback Haptik & Audio: Karena ruang hampa itu sepi dan perasaan rabaan berkurang gara-gara sarung tangan, UI harus ngasih konfirmasi berupa suara (beep) atau getaran (haptic) tiap kali tombol ditekan.
Penulis kiki dari smkn 9 bungo




Leave a Reply