Gubuku – Pernah nggak sih kamu lagi scrolling Instagram, TikTok, atau baca website kekinian, terus nemu tulisan yang font-nya punya lekukan bolong atau “coakan” aneh di sudut-sudut hurufnya? Contohnya kaya huruf “M”, “N”, atau “W” yang sudut dalamnya kaya “dipotong” atau dicoak.
Kalau kamu pikir itu glitch atau typo, kamu salah besar. Itu namanya Ink Trap! Desain font yang tadinya diciptakan buat teknologi cetak era purba ini, sekarang malah jadi tren typography paling hype di dunia desain digital. Kok bisa estetika jadul ini mendadak balik lagi dan disukai anak muda? Yuk, kita bedah!
Apa Sih Ink Trap Itu? (Spoiler: Dulu Biar Gak Belepotan!)
Biar gampang dibayangin, Ink Trap (jebakan tinta) itu adalah sudut siku-siku atau lekukan dalam huruf yang sengaja dipotong atau dibolongin.
-
Fungsi Aslinya: Zaman dulu, waktu koran atau buku masih dicetak pakai kertas murah dan tinta basah, tintanya sering “bleber” (bleeding) di sudut-sudut huruf yang sempit. Akibatnya, huruf kaya “A” atau “K” bakal kelihatan blobor dan gak terbaca.
-
Solusinya: Para type designer zaman dulu bikin “jebakan” berupa lobang kecil. Jadi pas tintanya meleber, tinta itu bakal ngisi lobang tersebut. Hasil akhirnya? Hurufnya kelihatan pas, tajam, dan nggak bleper pas kering.
Mengapa Ink Trap Bikin Gen Z Jatuh Cinta di Layar Digital?
Di era layar OLED, Retina Display, dan smartphone canggih, kita jelas gak butuh lagi yang namanya “jebakan tinta”. Tapi anehnya, designer zaman now justru makin makin gila buat tonjolin fitur ini. Ini alasannya:
1. Estetika Brutalisme & Anti-Mainstream Gen Z itu paling cepat bosan sama desain yang serba rapi, polos, dan terlalu “corporate minimalism” (kaya font Arial atau Helvetica yang dipake di mana-mana). Ink trap ngasih kesan edgy, sedikit cyberpunk, dan punya karakter raw atau unfiltered yang terasa lebih jujur.
2. Bikin Desain UI/UX Punya “Personality” Layar HP kita itu dipenuhi ratusan aplikasi yang tampilannya mirip-mirip. Dengan make typeface ber-ink trap di judul (heading) atau poster, visual sebuah aplikasi/brand langsung kelihatan mencolok, futuristik, dan estetik banget buat di-screenshot lalu masukin IG Story.
3. Ironi Nostalgia: Retro Meets Future Anak zaman sekarang suka banget sama hal-hal nostalgia (analog, kamera Y2K, kaset pita), tapi digabungin sama gaya futuristik. Ink trap adalah jembatannya: teknologi cetak abad ke-20 yang di-remix buat layar digital abad ke-21.
Cara Pakai Ink Trap Biar Desain Kamu Nggak Alay
Buat kamu yang mau nyoba pake font ber-ink trap di konten digital, UI design, atau feeds media sosial, ini tips ringkasnya:
-
Pakai buat Heading/Judul Besar: Ink trap itu poin utamanya ada di detail. Kalau dipake di judul ukuran besar, “coakan”-nya bakal kelihatan keren dan estetik.
-
Hindari buat Paragraf Panjang: Jangan pake font ink trap ekstrem buat teks bacaan (body text) yang ukurannya kecil, bikin mata cepat capek!
-
Rekomendasi Font: Coba cek font kaya Inconsolata, GT Neue Graphik, atau Deepfak buat eksperimen visual kamu selanjutnya.
Penulis kiki dari smkn 9 bungo




Leave a Reply