Gubuku –
1. Pahami Konsep “Low-Poly” tapi Tetap Estetis Di dunia UI/UX, performa adalah kunci. Semakin rumit detail 3D kamu (high polygon), file-nya bakal makin berat dan bikin aplikasi loading lama.
-
Pilih gaya Claymorphism atau Soft 3D yang mengutamakan bentuk-bentuk dasar (cube, sphere, cylinder).
-
Jaga jumlah polygon (geometry) tetap efisien tanpa mengorbankan estetika visual.
2. Mainkan Pencahayaan dan Material “Candy” Visual Gen Z itu identik dengan warna-warna yang pop up, cerah, dan sedikit sentuhan futuristik.
-
Lighting: Gunakan teknik three-point lighting yang lembut (soft shadows). Hindari pencahayaan yang terlalu gelap atau terlalu realistis/sangar.
-
Material: Kombinasikan material matte mirip tanah liat (clay) dengan sedikit aksen glassmorphism (efek kaca transparan) atau glossy biar kelihatan kekinian.
3. Tentukan Sudut Pandang (Isometric vs. Perspective) Aset UI harus konsisten secara tata letak.
-
Isometric (Orthographic): Sudut pandang tanpa titik hilang (vanishing point). Cocok banget buat ikon-ikon aplikasi atau ilustrasi fitur karena gampang ditata sejajar.
-
Slight Perspective: Cocok buat hero image (banner utama di halaman paling atas web) biar ada kesan depth atau kedalaman yang dramatis.
4. Optimasi Ukuran File dan Format Export Design cakep bakal percuma kalau bikin web crash. Setelah selesai modeling dan rendering (bisa pakai Spline, Blender, atau Cinema 4D), cara kamu export adalah kunci keberhasilan:
-
Format Statis: Simpan sebagai
.PNG(dengan background transparan) atau.WEBPbuat kompresi maksimal tanpa mengurangi kualitas gambar. -
Format Interaktif (Bisa Diputar/Digerakkan): Simpan dalam format
.gLTFatau.GLB. Format ini ibarat.MP3-nya dunia 3D—ringan banget buat dijalankan langsung di browser!
Penulis : ADELIA SMK SUDJ




Leave a Reply