Gubuku – Pernah gak sih lo udah effort banget bikin desain UI/UX yang clean, estetik, dan ikutan tren terkini, tapi pas presentasi ke CEO malah ditanya: “Terus, dampaknya ke omzet perusahaan apa?”
Juaranya bikin jengkel, kan?
Tapi jujur aja, dari sudut pandang CEO, mereka gak terlalu peduli sama pemilihan warna pastel, animasi yang smooth, atau tren glassmorphism. Yang ada di pikiran mereka cuma satu hal: Uang (aka Revenue, Profit, dan Growth).
Nah, biar ide desain lo gak cuma dipuji estetik tapi juga dapet lampu hijau plus anggaran gede, lo harus bisa nerjemahin estetika jadi bahasa bisnis, alias Design ROI (Return on Investment).
Gimana caranya? Yuk, bedah taktik rahasianya di bawah ini!
1. Ganti Bahasa “Estetika” Jadi Bahasa “Bisnis”
Langkah pertama: stop pakai istilah-istilah desain yang cuma dimengerti anak agensi pas ngobrol sama CEO. Ubah dictionary lo jadi kayak gini:
| Istilah Desain ❌ | Bahasa Bisnis ke CEO ✅ |
| “Navigasinya makin simpel dan interaktif.” | “Bisa menurunkan bounce rate sebesar 15% dan mempercepat proses transaksi.” |
| “Tampilannya lebih modern dan eye-catching.” | “Meningkatkan conversion rate pengguna baru hingga 20%.” |
| “Desain aplikasinya lebih ramah pengguna (user-friendly).” | “Mengurangi beban kerja Customer Service karena komplain pengguna berkurang 30%.” |
2. Pakai Formula Math Sederhana: Input vs Output
CEO itu gila angka. Jadi, tunjukin ke mereka kalau setiap rupiah yang dikeluarkan buat desain bakal balik modal berlipat ganda.
Gunakan rumus dasar ROI sederhananya:
Contoh Kasus:
“Pak/Bu, kalau kita redesign halaman checkout, biaya pengembangannya butuh Rp 10 juta. Tapi berdasarkan data A/B testing, redesign ini bisa mengurangi angka pembatalan belanjaan. Estimasi omzet tambahan kita bisa naik Rp 50 juta per bulan.”
Mendengar angka segitu, CEO mana yang gak langsung tertarik?
3. Sajikan Data Dulu, Baru Tunjukin Visualnya (A/B Testing & Metric)
Jangan langsung pamer file Figma atau mockup cantik di slide pertama. Tunjukin dulu data masalah dan hipotesis dampaknya.
-
Tunjukkan Problem: “Pak, 40% calon pembeli berhenti di halaman pembayaran karena tombolnya ngelag/bingung.”
-
Tunjukkan Data Test: “Kita udah coba uji coba (A/B testing) ke 1.000 user pakai desain baru. Hasilnya, transaksi berhasil naik 25%.”
-
Baru Tunjukkan Desain: “Ini dia tampilan desain barunya yang terbukti menaikkan transaksi.”
4. Bawa “Case Study” Produk Raksasa Sebagai Bukti
CEO kadang butuh validasi kalau strategi ini udah sukses di perusahaan lain. Bawa studi kasus nyata dari brand besar biarargumen lo makin makin solid:
-
Airbnb: Dulu hampir bangkrut sampai akhirnya founder-nya menyadari foto-foto listing-nya jelek. Setelah mereka redesign dan ganti foto resolusi tinggi, pendapatan mingguan mereka langsung naik dua kali lipat!
-
McKinley/IBM Research: Perusahaan yang berinvestasi kuat pada Design Driven punya pendapatan (revenue) 32% lebih tinggi dibanding kompetitornya.
5. Hubungkan Desain dengan LTV (Life Time Value) dan Retensi
Bikin klien beli sekali itu biasa, tapi bikin mereka balik lagi berulang kali itu baru extraordinary! Tunjukkan ke CEO kalau desain yang bagus itu bikin Customer Retention Rate naik.
Semakin betah dan nyaman pengguna pakai aplikasi/website lo, makin panjang Lifetime Value (LTV) mereka. Artinya? Perusahaan gak perlu buang-buang uang marketing cuma buat narik orang baru, karena pengguna lama udah setia pakai produk lo.
Kesimpulan: Desain Bukan Cuma Soal Seni, Tapi Strategi Bisnis!
Ngejelasin Design ROI ke CEO emang butuh sedikit perpindahan mindset. Lo gak cuma bertindak sebagai desainer visual, tapi juga sebagai strategis bisnis.
Begitu lo bisa ngebuktiin kalau desain lo bisa menghasilkan cuan atau menghemat biaya operasional, CEO gak bakal lagi ngeliat desain sebagai “biaya pengeluaran”, tapi sebagai investasi paling menguntungkan.
penulis: asil – SMKN 8 Bungo




Leave a Reply