Jejak Swiss Style (International Typographic Style) dalam Desain

Jejak Swiss Style (International Typographic Style) dalam Desain

Jejak Swiss Style (International Typographic Style) dalam Desain

Gubuku – Kalau lo lagi buka Spotify, scrolling di Notion, atau ngelihat poster-poster pameran seni yang estetik di Pinterest, pernah gak sih lo sadar kalau visualnya punya “pola” yang mirip? Layout-nya rapi, tulisan pakai font Sans Serif yang clean, dan ada grid simetris yang bikin mata rasanya adem banget.

Nah, gaya visual yang kerasa modern dan minimalis itu sebenarnya bukan tren baru kemarin sore. Visual ciamik itu adalah warisan dari Swiss Style alias International Typographic Style!

Padahal munculnya udah dari pertengahan abad ke-20, tapi kenapa ya Swiss Style ini masih jadi rulebook utama para desainer grafis zaman now? Yuk, kita bedah dan menelusuri jejaknya bareng-bareng!

Apa Sih Swiss Style Itu? (The OG Minimalist)

Swiss Style adalah gerakan desain grafis yang lahir di Swiss pada tahun 1950-an, dipelopori oleh desainer legendaris kayak Josef Müller-Brockmann dan Armin Hofmann.

Prinsip utama mereka simpel: Desain itu harus objektif, jelas, dan fokus menyampaikan pesan tanpa dekorasi yang gak penting.

Prinsip ini lahir karena sebelum era 50-an, desain grafis itu penuh hiasan, ribet, dan sering bikin orang bingung nyari inti informasinya. Swiss Style datang sebagai “penyelamat” buat bikin visual jadi lebih bersih dan gampang dipahami semua orang.

4 Elemen Ciri Khas Swiss Style yang Sering Lo Lihat Sekarang

Kalau lo mau bikin karya dengan vibes Swiss Style, ini 4 “bumbu rahasia” yang wajib ada:

1. Penggunaan Grid System yang Ketat

Swiss Style gak mengenal kata “asal geser”. Semua elemen—baik teks, foto, maupun garis—harus ditaruh di atas struktur grid (pola baris dan kolom). Makanya hasil desainnya selalu kelihatan simetris, rapi, dan teratur.

Baca Juga  Cara Membuat Sertifikat di Canva

2. Typographic Dominance & Sans Serif Fonts

Di gaya ini, teks adalah pahlawan utamanya! Dan font yang dipakai wajib jenis Sans Serif (font tanpa “kaki” atau lekukan dekoratif).

Fun Fact: Font paling populer dan legendaris di dunia, Helvetica, lahir dari rahim gerakan Swiss Style ini pada tahun 1957!

3. Asymmetrical Layout & Negative Space

Meskipun pakai grid, susunan layout-nya sering dibuat asimetris biar gak membosankan. Plus, mereka rajin banget manfaatin negative space (ruang kosong) biar desain punya ruang bernapas.

4. Fotografi Objektif dibanding Ilustrasi

Dibanding pakai gambar lukisan tangan yang subjektif, Swiss Style lebih suka pakai foto nyata yang tajam atau bentuk-bentuk geometris dasar buat menyampaikan pesan secara langsung.

Jejak Swiss Style di Era Digital: Dari UI/UX Sampai App Icon!

Mungkin lo mikir: “Lah, itu kan sejarah abad lalu, terus pengaruhnya buat era sekarang apa?”

Jawabannya: ADA DI MANA-MANA! Tanpa lo sadari, hampir seluruh produk digital yang lo pakai sehari-hari adalah keturunan dari Swiss Style.

  • UI/UX Applications (Figma, Notion, Spotify): Tampilan aplikasi modern yang clean, pakai font gampang dibaca, tombol-tombol yang terstruktur rapi di dalam grid—itu semua mengadopsi mindset Swiss Style.

  • Flat Design & Material Design: Tren desain UI dari Apple dan Google beberapa tahun terakhir yang membuang efek 3D norak dan kembali ke visual 2D yang bersih adalah bentuk evolusi dari Swiss Style.

  • Branding & Logo Modern: Brand raksasa kayak Nike, Apple, hingga Tokopedia pakai pendekatan tipografi yang bersih dan minimalis ala Swiss Style biar logo mereka kelihatan timeless (gak dimakan zaman).

Mengapa Gen Z Suka Banget Sama Swiss Style?

Alasannya simpel: Overload Informasi!

Baca Juga  5 Kesalahan Umum dalam Desain Iklan

Setiap hari Gen Z dihujani ribuan konten visual di TikTok, Instagram, dan X. Otak kita capek kalau harus ngelihat desain yang terlalu ramai dan pusing. Swiss Style menawarkan visual yang calming, straightforward, estetik, dan cepat dipahami cuma dalam sekali lirik.

penulis: bunga smksudj