Fashion Luar Negeri Menggunakan Tipografi Aksara NonLatin

Fashion Luar Negeri Menggunakan Tipografi Aksara NonLatin

Fashion Luar Negeri Menggunakan Tipografi Aksara NonLatin

Gubuku  – Pernah gak sih lo lagi jalan-jalan di mall, nge-scroll Pinterest, atau ngeliat streetwear collection dari brand-brand luar negeri ternama, terus mikir: “Kok kaos sama hoodie mereka banyak yang pake tulisan Kanij, Kanji, Katakana, Arab, atau Hangul ya?”

Gak cuma brand indie, label raksasa kelas dunia kayak Supreme, Adidas, Nike, sampai haute couture sekelas Balenciaga sering banget nempelin aksara non-Latin di koleksi mereka. Padahal, target pasar mereka di Eropa atau Amerika belum tentu bisa baca artinya!

Ternyata, penggunaan aksara non-Latin di industri fashion global itu bukan cuma sekadar “biar kelihatan keren” doang, lho. Ada alasan estetika, psikologi visual, hingga strategi bisnis di baliknya. Yuk, kita kupas tuntas alasannya di bawah ini!

1. Exoticism & Visual Mystery (Bikin Penasaran!)

Buat masyarakat Barat yang sehari-hari ngeliat huruf A-Z, aksara non-Latin—kayak Katakana Jepang, Hangeul Korea, atau Aksara Arab—kelihatan super unik dan eksotis.

  • Bukan Cuma Tulisan, Tapi Seni Visual: Bagi orang yang gak bisa bacanya, aksara tersebut gak dianggap sebagai “teks”, melainkan sebagai bentuk geometris atau gambar estetik.

  • Efek Penasaran: Ada elemen misteri yang bikin orang ngelihatin baju itu dua kali. “Artinya apa ya?” Rasa penasaran inilah yang bikin desainnya standout di tengah gempuran baju dengan tipografi bahasa Inggris yang gitu-gitu aja.

2. Pengaruh Subkultur & Streetwear Culture

Penggunaan aksara non-Latin gak bisa dilepaskan dari perkembangan streetwear di era 90-an dan 2000-an.

  • KULTUR JEPANG (Harajuku & Anime): Kota Tokyo (khususnya Harajuku) udah lama jadi kiblat streetstyle dunia. Brand lokal Harajuku kayak A Bathing Ape (BAPE) atau Undercover memelopori penggunaan Katakana dan Kanji dalam desain mereka.

  • Hallyu Wave (K-Culture): Ledakan K-Pop dan drama Korea bikin huruf Hangeul punya hype yang luar biasa di kalangan anak muda global. Brand luar negeri memanfaatkan tren ini buat narik perhatian Gen Z yang cinta banget sama pop kultur Asia.

Baca Juga  Desain Flat vs 3D: Mana yang Lebih Kekinian?

3. Strategi Market Expansion (Menggaet Pasar Global)

Industri fashion itu bisnis, dan pasar Asia serta Timur Tengah adalah konsumen terbesar barang fashion dan luxury goods saat ini!

Dengan memasukkan aksara lokal negara tersebut ke dalam artikel pakaian:

  • Brand luar negeri berusaha nunjukin kalau mereka inklusif dan merangkul konsumen lokal.

  • Menciptakan kesan limited edition atau kolaborasi spesial kawasan tertentu yang bikin koleksinya makin dicari oleh para snkrshead dan kolektor fashion.

4. Mengangkat Vibes Cyberpunk dan Futuristik

Pernah nonton film Akira, Blade Runner, atau main game Cyberpunk 2077? Dunia futuristik sering banget digambarkan penuh dengan neon berhuruf Jepang, Mandarin, atau Korea.

  • Desainer fashion sering mengambil estetika ini buat bikin koleksi bertema techwear atau cyberpunk.

  • Sentuhan aksara non-Latin memberikan impresi dystopian, modern, dan edgy yang disukai anak muda zaman sekarang.

Tapi Ingat: Ada Isu Cultural Appropriation & Typo Fatal!

Meski kelihatan keren, tren ini punya “jebakan batman” buat para desainer grafis dan brand:

  1. Arti yang Ngawur: Banyak desainer luar yang asal copy-paste aksara dari Google Translate tanpa tahu artinya. Hasilnya? Ada baju mahal yang tulisannya ternyata “Sup Ayam” atau “Mesin Cuci”.

  2. Sensitivitas Budaya: Menggunakan aksara suci atau huruf dari budaya tertentu tanpa memahami maknanya bisa dianggap sebagai pelecehan budaya (cultural appropriation).

Lesson for Graphic Designers: Kalau lo mau pake aksara non-Latin buat proyek desain kaos atau brand lo sendiri, wajib konsultasi sama penutur aslinya biar gak salah arti!

penulis : diah smkn 8 bungi