Gubuku – Pernah gak sih lo lagi jalan-jalan di bandara internasional, stasiun, atau mal, terus ngelihat simbol toilet umum? Gambar cowok pakai celana dan cewek pakai gaun/rok mekar.
Atau pas lo ngelooking tanda “Construction Work” di jalan, ikon yang digambar selalu sosok bertopi proyek yang secara otomatis diasumsikan sebagai laki-laki.
Sadar atau gak, piktogram (simbol/ikon visual yang dipakai di seluruh dunia) yang kita lihat sehari-hari itu masih banyak yang membawa bias gender dan budaya. Padahal, fungsi piktogram kan dibuat biar universal alias bisa dipahami semua orang tanpa batas bahasa.
Kenapa sih hal ini penting banget buat dibahas dan diubah? Yuk, kita bedah alasannya sampai tuntas!
1. Piktogram Itu “Bahasa Dunia”, Bukan Cuma Milik Satu Budaya
Piktogram diciptakan dengan satu tujuan utama: komunikasi instan tanpa sekat bahasa. Mau lo orang Indonesia, Jepang, atau Brasil, pas ngelihat piktogram “Pintu Darurat”, lo langsung tahu harus lari ke mana.
Tapi masalahnya, banyak piktogram klasik diciptakan dengan standar perspektif Barat (Western-centric). Contoh kecilnya:
-
Simbol “makanan” sering disimbolkan dengan garpu dan pisau. Padahal, miliaran orang di Asia makan pakai sumpit atau tangan langsung.
-
Simbol “tempat ibadah” kadang masih terlalu condong ke arsitektur budaya tertentu.
Kalau piktogramnya gak bebas bias budaya, orang dari latar belakang berbeda bisa kebingungan. Padahal, di tempat umum kayak bandara, salah paham visual itu bisa bikin chaos!
2. Pakaian Gak Menentukan Gender (Bye-Bye Stereotipe Segitiga!)
Mari kita bahas simbol paling populer di bumi: Ikon Toilet.
Kenapa sosok wanita selalu digambarkan pakai gaun/rok bentuk segitiga, sedangkan pria pakai celana lurus?
-
Stereotipe Jadul: Di dunia nyata, cewek Gen Z zaman sekarang lebih sering pakai celana kargo atau jeans, dan di beberapa budaya, cowok juga memakai sarung, rok, atau kain tradisional.
-
Diskriminasi Implisit: Menggambarkan gender cuma dari sepotong gaun itu sempit banget dan mengotakkan peran gender.
Beberapa negara dan desainer modern sekarang udah mulai berbenah. Mereka bikin piktogram toilet yang lebih gender-neutral—fokus ke fungsi fasilitasnya (misal: gambar toilet duduk/wastafelnya) daripada siapa yang boleh masuk. Smarter and cleaner!
3. “Pekerjaan Gak Punya Gender”: Mengubah Representasi Profesi
Pernah ngelakuin pencarian ikon buat slide presentasi lo?
-
Ikon Dokter/Insinyur/Polisi = Laki-laki.
-
Ikon Perawat/Guru/Sekretaris = Perempuan.
Bias ini secara gak sadar menanamkan pemikiran ke generasi muda kalau profesi tertentu cuma cocok buat gender tertentu. Piktogram internasional yang bebas bias bakal menampilkan representasi yang adil. Profesi adalah tentang skill, bukan soal kromosom!
4. Inklusivitas Buat Komunitas Non-Biner & Disabilitas
Gen Z adalah generasi yang paling vokal soal inklusivitas dan diversity. Piktogram yang kaku dan penuh bias sering kali bikin teman-teman non-biner atau gender-diverse merasa tersisihkan di ruang publik.
Selain gender, piktogram internasional yang baik juga harus ramah buat disabilitas tanpa memberi kesan “kasihan”. Contohnya, pembaruan Accessible Icon Project yang mengubah piktogram kursi roda lama (terlihat pasif/diam) jadi ikon baru yang menggambarkan pengguna kursi roda sedang bergerak aktif dan mandiri.
Gimana Cara Desainer Grafis Bikin Piktogram yang Netral?
Buat lo para creators, UI/UX designers, atau desainer grafis Gen Z, ini dia contekan biar karya piktogram lo bebas dari bias:
-
Gunakan Bentuk Abstrak/Genderless: Pakai bentuk figur stik (stick figure) yang netral tanpa tambahan atribut rambut panjang, rok, atau bentuk tubuh yang menonjolkan gender.
-
Fokus ke Objek/Aktivitas: Dibanding nggambar orangnya, mending gambar objek utamanya. Contoh: Simbol “Dilarang Merokok” fokus ke rokoknya, bukan gambar orang lagi merokok.
-
Riset Budaya Global: Hindari gestur tangan atau simbol lokal yang punya arti beda (atau malah kasar) di negara lain.
Kesimpulan
Piktogram mungkin kelihatan simpel cuma berupa garis dan lingkaran hitam-putih. Tapi, pengaruhnya ke alam bawah sadar masyarakat global itu gede banget!
Mendesain piktogram internasional yang bebas dari bias gender dan budaya bukan cuma soal estetika, tapi soal kesetaraan, kemudahan navigasi, dan rasa saling menghargai sesama manusia di ruang publik.
penulis : asil – SMKN 8 Bungo




Leave a Reply