Gubuku – Belajar desain grafis kini semakin mudah berkat banyaknya sumber belajar gratis di internet. Namun, banyak pemula yang justru merasa frustrasi karena hasil karyanya belum sebagus yang diharapkan. Menurut situs Canva Design School (2024), salah satu alasan utama seseorang gagal berkembang di dunia desain adalah karena terlalu fokus pada hasil, bukan pada proses pembelajaran.
Sebagai seorang pemula, penting untuk menyadari bahwa setiap desainer profesional juga pernah melakukan banyak kesalahan. Kesalahan bukanlah hal buruk, justru itu bagian dari proses belajar. Namun, dengan mengetahui kesalahan umum yang sering terjadi, kamu bisa menghindarinya lebih cepat dan meningkatkan kemampuanmu secara efektif.
1. Tidak Punya Tujuan yang Jelas Saat Belajar
Banyak pemula belajar desain grafis tanpa arah yang jelas. Mereka langsung membuka aplikasi seperti Adobe Photoshop atau Canva, lalu mencoba membuat desain tanpa tahu dasar-dasarnya. Akibatnya, hasil desain sering terlihat acak dan tidak punya konsep.
Menurut CreativeBloq (2023), langkah terbaik sebelum belajar desain grafis adalah menentukan tujuan: apakah kamu ingin menjadi desainer logo, desainer sosial media, atau ilustrator digital. Dengan tahu tujuanmu, kamu bisa memfokuskan waktu dan tenaga pada bidang tertentu agar perkembanganmu lebih terarah.
Tips:
Mulailah dengan menentukan niche desain yang kamu sukai. Misalnya, fokus pada desain poster, logo, atau konten media sosial. Setelah itu, pelajari prinsip dasarnya secara bertahap.
2. Mengabaikan Prinsip Dasar Desain
Kesalahan klasik yang sering dilakukan pemula adalah tidak memahami prinsip dasar desain grafis, seperti keseimbangan (balance), kontras, hirarki, proporsi, dan keselarasan (alignment). Prinsip-prinsip ini adalah pondasi utama agar desain terlihat menarik dan profesional.
Sebagai contoh, tanpa memahami kontras, warna teks bisa jadi sulit dibaca di atas background. Menurut Adobe Education Exchange (2023), menguasai prinsip desain akan membantu kamu membuat karya yang bukan hanya indah tapi juga komunikatif.
Tips:
Luangkan waktu untuk memahami teori desain grafis. Kamu bisa belajar dari buku seperti “The Non-Designer’s Design Book” oleh Robin Williams yang banyak direkomendasikan oleh desainer di seluruh dunia.
3. Terlalu Fokus pada Software, Bukan pada Konsep
Banyak pemula berpikir bahwa menguasai software seperti Adobe Illustrator, CorelDRAW, atau Photoshop adalah satu-satunya kunci untuk menjadi desainer hebat. Padahal, software hanyalah alat. Desain yang bagus selalu berawal dari konsep dan ide kreatif.
Menurut Envato Tuts+ (2024), 80% proses desain berasal dari pemikiran dan perencanaan, sedangkan hanya 20% dari eksekusi menggunakan software. Jadi, jangan hanya belajar tombol dan fitur, tapi latih juga cara berpikir kreatif dan visualisasi ide.
Tips:
Biasakan membuat sketsa di kertas sebelum membuka software. Tujuannya agar ide-ide awal bisa mengalir bebas tanpa dibatasi oleh alat digital.
4. Meniru Desain Tanpa Memahami Konsepnya
Meniru desain orang lain adalah hal yang wajar untuk belajar, tapi banyak pemula melakukannya tanpa memahami alasan di balik desain tersebut. Mereka hanya menyalin bentuk dan warna tanpa tahu prinsip komposisi, psikologi warna, atau tujuan desain itu dibuat.
Menurut Dribbble Design Community (2024), meniru tanpa analisis akan menghambat kreativitas. Sebaliknya, kamu bisa melakukan “inspirational copying”, yaitu mempelajari desain, menganalisis strukturnya, lalu menciptakan versi yang lebih baik dan orisinal.
Tips:
Coba lihat karya di situs seperti Behance atau Pinterest. Pilih desain yang kamu suka, lalu analisis: mengapa desain itu menarik? Warna apa yang digunakan? Apa pesan yang disampaikan?
5. Menggunakan Terlalu Banyak Font dan Warna
Pemula sering berpikir semakin banyak font dan warna, desainnya akan terlihat keren. Padahal, justru sebaliknya — desain bisa terlihat berantakan dan tidak profesional.
Menurut HubSpot Design Guide (2023), penggunaan maksimal dua jenis font dan tiga warna utama sudah cukup untuk menjaga kesatuan visual.
Contoh kesalahan:
Satu poster menggunakan font Comic Sans, Times New Roman, dan Arial sekaligus — hasilnya akan membingungkan mata.
Tips:
Gunakan font pairing yang serasi, misalnya kombinasi sans-serif dan serif (seperti Montserrat + Playfair Display). Untuk warna, gunakan palet dari situs seperti coolors.co agar desainmu tetap harmonis.
6. Tidak Menerima Kritik dan Masukan
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah tidak mau menerima kritik. Banyak pemula merasa desainnya sudah bagus dan enggan dikoreksi. Padahal, menurut 99designs by Vista (2023), umpan balik adalah salah satu cara tercepat untuk berkembang.
Desainer profesional justru rutin meminta review dari sesama desainer. Melalui masukan, kamu bisa tahu bagian mana yang kurang dan bagaimana cara memperbaikinya.
Tips:
Gabunglah ke komunitas desain seperti Desain Grafis Indonesia (DGI) atau forum online di Facebook dan Discord. Di sana kamu bisa berbagi karya dan mendapat saran dari desainer lain.
7. Tidak Menyesuaikan Desain untuk Media yang Tepat
Pemula sering lupa bahwa desain untuk media sosial, cetak, dan web memiliki kebutuhan yang berbeda. Misalnya, ukuran resolusi untuk Instagram tidak sama dengan ukuran untuk spanduk cetak. Jika ini diabaikan, hasil desain bisa pecah atau tidak proporsional.
Menurut Canva Blog (2024), desainer pemula harus memahami standar ukuran dan format file sejak awal agar hasil akhir tetap tajam dan profesional di semua platform.
Tips:
Sebelum mendesain, tentukan dulu platform yang akan digunakan. Gunakan template ukuran yang sesuai, misalnya:
-
Instagram post: 1080 x 1080 px
-
Facebook cover: 820 x 312 px
-
Poster cetak A3: 297 x 420 mm
8. Tidak Konsisten dalam Gaya Desain
Kesalahan berikutnya adalah kurang konsisten. Pemula sering mengubah gaya desain setiap kali membuat karya baru. Akibatnya, portofolio mereka terlihat tidak terarah dan sulit dikenali.
Menurut Design Shack (2023), konsistensi adalah kunci membangun ciri khas visual. Desainer yang punya gaya unik lebih mudah diingat dan mendapatkan klien.
Tips:
Temukan gaya desain yang kamu sukai—apakah minimalis, retro, flat, atau modern. Gunakan gaya itu secara konsisten agar identitas visualmu terbentuk dengan kuat.
9. Terlalu Cepat Menyerah
Belajar desain grafis memang butuh waktu. Banyak pemula berhenti setelah beberapa minggu karena merasa hasilnya belum bagus. Padahal, kemampuan desain berkembang lewat latihan rutin dan evaluasi terus-menerus.
Sumber dari Interaction Design Foundation (2024) menjelaskan bahwa butuh setidaknya 100 jam latihan fokus untuk memahami dasar-dasar desain grafis dengan baik. Jadi, sabar dan konsisten adalah kunci utama.
Tips:
Buat jadwal belajar. Misalnya, 30 menit per hari untuk belajar teori dan 1 jam untuk praktik. Catat progresmu setiap minggu agar kamu bisa melihat perkembangan nyata.
Belajar dari Kesalahan Adalah Bagian dari Proses
Kesalahan dalam belajar desain grafis bukanlah kegagalan, tapi bagian penting dari proses berkembang. Dengan memahami kesalahan-kesalahan umum di atas — mulai dari tidak punya tujuan, mengabaikan prinsip desain, hingga terlalu cepat menyerah — kamu bisa memperbaiki diri lebih cepat dan menghasilkan karya yang lebih berkualitas.
Ingatlah, seperti kata desainer terkenal Paul Rand:
“Design is so simple. That’s why it’s so complicated.”
Jadi, teruslah belajar, bereksperimen, dan jangan takut salah. Karena setiap desain buruk hari ini adalah langkah menuju desain hebat di masa depan.





Leave a Reply