Mengapa Anti-Branding Style Diminati Gen Z?

Mengapa Anti-Branding Style Diminati Gen Z?

Gubuku – Kalau kamu perhatiin feed Instagram atau FYP TikTok belakangan ini, ada tren fashion baru yang lagi rame banget. Baju dengan logo brand segede gaban atau motif desainer yang mentereng mulai ditinggalin. Sebagai gantinya, anak muda sekarang lebih milih kaos polos tanpa merek, baggy jeans, dan outfit simpel yang kelihatan biasa aja tapi tetep effortlessly cool.

Gaya ini dikenal dengan sebutan anti-branding style, atau sering juga dikaitkan sama tren quiet luxury dan normcore.

Tapi, kenapa sih gaya yang terkesan “ngumpetin merek” ini justru makin diminati dan makin viral di kalangan Gen Z? Yuk, kita bedah alasan di baliknya!

1. Bosan Jadi “Papan Iklan Berjalan”

Dulu, makin gede logo di baju, makin ngerasa keren dan flexing. Tapi buat Gen Z, tren itu udah out of date alias kuno.

Pakai pakaian dengan logo raksasa malah bikin seseorang kelihatan kayak papan iklan berjalan buat sebuah merek. Gen Z lebih suka pakaian yang menonjolkan diri mereka sendiri, bukan merek yang mereka pakai.

Key takeaway: Style itu soal bagaimana kamu memadupadankan baju (mix and match), bukan seberapa mahal logo yang tertempel di dada.

2. Utamakan Kualitas dan Kenyamanan dibanding Gengsi

Gen Z dikenal sebagai konsumen yang makin cerdas (smart shopper). Daripada beli baju mahal cuma demi pamer logo, mereka lebih milih merhatiin:

  • Bahan pakaian: Nyaman, adem, dan tahan lama.

  • Potongan (cut): Pas di badan dan nyaman dipakai seharian.

  • Fungsionalitas: Bisa dipakai buat berbagai acara (versatile).

Prinsipnya simpel: kalau bahannya jelek dan gak nyaman, logo semahal apa pun gak bakal bikin baju itu bernilai.

Baca Juga  Copyright vs Trademark: Apa Bedanya untuk Desain Logo

3. Quiet Luxury: Keren Tanpa Harus Bising

Ada istilah keren di kalangan Gen Z: “Money talks, wealth whispers”.

Anti-branding style ngasih kesan elegan dan effortless. Orang yang paham fashion bakal tetap tahu kalau potongannya bagu dan bahannya berkualitas, tanpa perlu tulisan merek yang mencolok. Gaya ini ngasih kesan percaya diri yang tinggi—gak perlu validasi dari orang lain lewat logo mahal.

4. Kesadaran akan Isu Lingkungan dan Thrifting

Gen Z adalah generasi yang sangat peduli sama isu keberlanjutan (sustainability). Tren anti-branding ini jalan berdampingan sama budaya thrifting atau berburu pakaian vintage.

Banyak baju thrifting atau produk dari local brand independen yang gak punya logo mencolok, tapi punya kualitas ciamik. Selain lebih ramah kantong, pilihan ini juga dianggap lebih ramah lingkungan dibanding terus-terusan beli produk fast fashion bermerek.

Penulis kiki dari smkn 9 bungo