Gubuku – Salah satu kesalahan paling umum dalam pemilihan font adalah menggunakan terlalu banyak jenis huruf dalam satu desain. Banyak orang berpikir bahwa semakin banyak variasi font akan membuat tampilan lebih menarik, padahal justru membuatnya berantakan.
Desain yang terlalu ramai bisa membuat audiens kehilangan fokus terhadap pesan utama. Idealnya, cukup gunakan dua hingga tiga jenis font saja. Misalnya, satu untuk judul, satu untuk isi teks, dan satu tambahan jika dibutuhkan untuk aksen dekoratif.
Menurut panduan dari Canva Design School (2024), konsistensi font membantu menjaga kesatuan visual dan membuat desain lebih profesional. Jadi, hindari mencampur terlalu banyak gaya huruf agar hasilnya tetap harmonis.
Mengabaikan Keterbacaan Huruf (Readability)
Font yang indah belum tentu mudah dibaca. Banyak desainer pemula memilih font bergaya unik atau artistik untuk semua elemen teks, termasuk isi paragraf. Akibatnya, pembaca kesulitan memahami informasi yang disampaikan.
Keterbacaan adalah faktor penting dalam desain. Gunakan font yang jelas dan bersih seperti Roboto, Lato, atau Open Sans untuk teks utama. Ketiga font ini memiliki bentuk huruf sederhana yang nyaman dilihat di layar digital maupun cetak.
Berdasarkan panduan dari Google Fonts (2024), readability adalah kunci utama agar pesan tersampaikan dengan baik. Jadi, sebelum memilih font, uji dulu apakah teks tetap mudah dibaca dari jarak pandang normal.
Tidak Menyesuaikan Font dengan Karakter Brand
Setiap font memiliki kepribadian dan nuansa tersendiri. Misalnya, Times New Roman memberikan kesan profesional dan formal, sementara Comic Sans terasa santai dan informal. Kesalahan yang sering terjadi adalah memilih font yang tidak mencerminkan karakter brand atau pesan yang ingin disampaikan.
Jika desainmu ditujukan untuk perusahaan keuangan, gunakan font yang tegas dan elegan seperti Merriweather atau Montserrat. Tapi untuk brand anak muda atau kreatif, font modern seperti Poppins atau Raleway akan lebih cocok.
Menurut Adobe Blog (2023), font adalah bagian dari identitas visual yang menggambarkan kepribadian brand. Karena itu, pastikan pilihan font mendukung pesan dan citra yang ingin kamu tampilkan.
Mengabaikan Ukuran dan Proporsi Font
Kesalahan berikutnya adalah tidak memperhatikan ukuran font dan proporsinya antar elemen desain. Ukuran teks yang terlalu kecil akan sulit dibaca, sedangkan ukuran yang terlalu besar bisa membuat tampilan tidak seimbang.
Gunakan hierarki tipografi agar desain terlihat terstruktur. Misalnya:
-
Judul utama: besar dan menonjol.
-
Subjudul: lebih kecil tapi tetap jelas.
-
Isi teks: ukuran sedang dengan jarak antar baris yang nyaman.
Panduan dari Smashing Magazine (2023) menyebutkan bahwa hierarki ukuran font membantu pembaca menavigasi konten dengan mudah dan meningkatkan pengalaman visual.
Tidak Mengatur Spasi Antar Huruf dan Baris
Spasi antar huruf (kerning) dan antar baris (line spacing) sering diabaikan padahal sangat berpengaruh terhadap tampilan teks. Teks dengan spasi terlalu rapat terlihat padat dan sulit dibaca, sedangkan spasi terlalu lebar bisa terasa tidak rapi.
Gunakan jarak antar baris sekitar 1.2x–1.5x ukuran font, dan pastikan setiap huruf memiliki ruang yang proporsional. Menurut Typewolf (2024), pengaturan spasi yang baik dapat meningkatkan kenyamanan membaca hingga 20%.
Mengatur spasi dengan cermat juga membantu desain tampak lebih profesional, terutama untuk materi promosi dan presentasi digital.
Memilih Font yang Tidak Sesuai dengan Media
Font yang tampak indah di layar belum tentu terlihat baik ketika dicetak. Contohnya, font tipis seperti Montserrat Light sering tampak elegan di layar komputer, tetapi bisa sulit dibaca di hasil cetak.
Sebelum memilih font, pertimbangkan di mana desain tersebut akan digunakan — apakah untuk media digital, cetak, atau keduanya. Untuk desain cetak, pilih font dengan ketebalan sedang seperti Georgia atau Garamond. Sedangkan untuk digital, font sans-serif seperti Open Sans dan Nunito Sans akan lebih jelas terlihat.
Menurut Designhill (2023), memahami konteks media sangat penting agar hasil desain tetap optimal di berbagai platform.
Salah Mengombinasikan Font
Menggabungkan dua font berbeda bisa menciptakan harmoni visual, tapi jika salah pilih, hasilnya justru tidak serasi. Misalnya, menggunakan dua font script dalam satu desain bisa membuat teks sulit dibaca.
Prinsip dasarnya adalah kontras yang seimbang. Kombinasikan font serif dan sans-serif yang memiliki karakter berbeda tetapi tetap harmonis. Contoh kombinasi yang direkomendasikan oleh Canva (2024) adalah:
-
Playfair Display (serif) dengan Lato (sans-serif).
-
Montserrat (sans-serif) dengan Merriweather (serif).
Gunakan perbandingan tebal-tipis atau gaya huruf untuk membedakan bagian penting, bukan menumpuk banyak jenis font.
Mengabaikan Kebutuhan Audiens dan Aksesibilitas
Desain yang baik tidak hanya indah, tapi juga bisa diakses oleh semua orang. Salah satu kesalahan fatal adalah menggunakan font dengan kontras rendah atau bentuk huruf yang sulit dibaca bagi orang dengan gangguan penglihatan.
Gunakan kontras warna yang tinggi antara teks dan latar belakang, seperti hitam di atas putih atau sebaliknya. Hindari penggunaan font kursif panjang untuk teks utama karena bisa mengurangi keterbacaan.
Menurut data dari WebAIM (2024), aksesibilitas tipografi sangat penting dalam pengalaman pengguna terutama untuk konten digital seperti website dan aplikasi.
Tidak Melakukan Uji Coba Tampilan
Banyak orang langsung memfinalkan desain tanpa menguji tampilan font di berbagai perangkat. Padahal, tampilan huruf bisa berubah tergantung ukuran layar, sistem operasi, dan resolusi.
Sebelum mengunggah atau mencetak desain, lakukan preview di beberapa perangkat seperti laptop, ponsel, dan tablet. Pastikan semua teks tetap terbaca dan proporsional.
Menurut UX Collective (2023), uji coba desain sebelum final membantu memastikan pesan visual tetap kuat dan mudah dipahami oleh audiens.
Kesalahan dalam pemilihan font sering kali terlihat sepele, namun berdampak besar pada kualitas desain. Font yang tidak sesuai dapat membuat pesan sulit dipahami, mengurangi kredibilitas brand, dan menurunkan nilai estetika.
Dengan menghindari kesalahan seperti penggunaan font berlebihan, keterbacaan rendah, atau kombinasi yang tidak serasi, kamu bisa menciptakan desain yang tidak hanya menarik tetapi juga efektif dalam menyampaikan pesan.
Ingat, pemilihan font adalah bagian penting dari komunikasi visual. Luangkan waktu untuk memilih dengan bijak, sesuaikan dengan karakter brand, dan pastikan tetap nyaman dibaca di berbagai media.





Leave a Reply